"Beras murah yang dipasarkan selama ini dicitrakan mutunya buruk sehingga kalau ada beras murah yang mutu fisiknya tampak lebih baik maka menarik perhatian pembeli," katanya di Magelang, Rabu.
Ia menduga masuknya beras palsu ke Indonesia secara resmi belum terdeteksi. Namun, banyak yang tahu jalur tidak resmi yang dapat ditembus oleh para penjahat ekonomi untuk memasukkan produknya ke Indonesia.
Menurut dia, perilaku para pelaku bisnis pangan di Indonesia yang sebagian masih buruk dalam penanganan pangan akhir-akhir ini maka isu beras plastik ini patut diwaspadai.
Ia menuturkan bahan baku pembuat beras palsu tersebut kabarnya berasal dari jenis palawija dengan bahan tambahan plastik. Bentuk dan penampilannya sama persis dengan beras asli, bahkan lebih cerah dan harganya murah.
Makan sepiring nasi beras palsu, katanya sama dengan mengonsumsi plastik satu tas kresek. Dampak buruk terhadap tubuh manusia dapat menimbulkan banyak penyakit yang sulit disembuhkan.
Ia mengatakan kebutuhan beras masyarakat Indonesia saat ini 316 gram/kapita/hari atau 115,34 kg/kapita/tahun. Jumlah penduduk Indonesia 247.572.400 jiwa maka kebutuhan beras mencapai 28.555.000 ton per tahun.
"Jika ditambah cadangan 10 juta ton, maka kebutuhan beras nasional menjadi 38.555.000 ton pada 2015," katanya.
Areal tanaman padi 13,5 juta hektare per tahun, dengan produktivitas 5,4 ton per hektare gabah kering panen (GKP) atau beras 2,81 ton per hektare maka produksi beras nasional 37,9 juta ton/tahun. Pada posisi kebutuhan dan produksi tersebut masih kekurangan beras 655.000 ton.
"Kondisi tersebut rupanya memancing masuknya beras palsu ke Indonesia. Sebenarnya dari imbangan produksi dan kebutuhan, Indonesia sudah surplus. Namun, karena ditambah dengan cadangan pemerintah sebesar 10 juta ton maka kebutuhan nasional beras menjadi kurang," katanya.

