
Gubes UMS tawarkan inovasi teknologi IoT dan instrumen elektronik dukung pembangunan berkelanjutan

Solo (ANTARA) - Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Heru Supriyono, ST, MSc, PhD., menawarkan inovasi teknologi internet of things (IoT) dan instrumen elektronik dukung pembangunan berkelanjutan.
Terkait hal itu, dalam rangka memperkuat riset akademik dan mewujudkan tercapainya tujuan program keberlanjutan, UMS sebagai institusi pendidikan kembali mengukuhkan lima guru besar dalam berbagai lintas disiplin keilmuan. Pengukuhan ini berupaya memberikan pencapain akademik serta solusi jangka panjang berbasis keilmuan yang menjawab kebutuhan lingkungan masyarakat.
Heru yang merupakan Guru Besar Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik dalam Jumpa Pers di Solo, Jawa Tengah, Senin memaparkan mengenai Aplikasi Teknologi Instrumentasi dan Kendali untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.
Heru menyoroti transformasi sistem digital berbasis prosesor yang mampu mengolah sinyal listrik dari berbagai sensor.
Dalam paparannya, Heru menjelaskan instrumentasi dan kendali elektronik yang terintegrasi dengan teknologi IoT berdampak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya pada asta cita ke-4 dan ke-5 dalam memperkuat pembangunan bidang sains dan teknologi, serta melanjutkan hilirisasi dan meningkatkan industrialisasi di Indonesia.
“Secara umum instrumentasi elektronik itu didefinisikan sebagai gabungan dari komponen elektronika yang disusun dari sebuah rangkaian atau sistem yang bekerja bersama-sama untuk mengolah sinyal listrik,” katanya.
Penggunaan teknologi IoT, dikatakannya, bermanfaat dalam optmatisasi proses industri dengan meningkatkan efektivitas pada pekerjaan yang memerlukan tindakan repetitif atau pengendalian secara jarak jauh terkait pemantauan dan pengendalian lingkungan.
“Sedangkan kalau kita menggunakan instrumentasi elektronik tidak ada capek secara fisik, tidak ada capek secara psikologis,” ungkap Heru.
Menariknya, dengan meluasnya jangkauan implementasi dalam pemantauan dan pengendalian, inovasi solutif ini dapat meminimalisir risiko bagi pengguna ketika mengidentifikasi suatu wilayah yang membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan.
Selain itu, sistem ini terbukti efektif meningkatkan pemantauan dengan keunggulan mampu merekam keseluruhan unsur hasil identifikasi dalam sebuah penyimpan data (pusat data) secara berkelanjutan sehingga dapat digunakan untuk proses penelitian selanjutnya.
Dalam pengembangan instrumentasi dan kendali, Heru akan menambah pada teknologi pendukung yang melibatkan sensor, prosesor yang kecil dan hemat daya namun mampu melakukan komunikasi kompleks, serta modul komunikasi data wireless.
Heru menegaskan penguasaan terhadap teknologi ini akan mewujudkan kemandirian masyarakat dalam mengikuti perkembangan teknologi dan revolusi industri.
“Kemudian untuk membuat instrumentasi dan kendali ini meningkat produktivitasnya, efektivitasnya, dan efisiensi,” tegasnya.
Tantangan yang masih dihadapi, lanjutnya, dalam pengembangan instrumentasi dan kendali dengan teknologi IoT adalah diperlukannya teknologi pendukung (enabling technologies) di antaranya adalah teknologi sensor, teknologi prosesor, dan komponen pendukung termasuk modul komunikasi data.
“Selain itu diperlukannya pemanenan energi untuk memberikan energi bagi sistem instrumentasi dan kendali yang diimplementasikan pada daerah yang terpencil (remote) yang jauh dari jaringan listrik atau untuk implementasi yang bergerak (mobile) yang tidak memungkinkan untuk selalu terhubung dengan sumber daya listrik dari jaringan listrik seperti PLN,” paparnya.
Selain dari sisi teknologi pendukung, tantangan berikutnya adalah bagaimana menggabungkan instrumentasi dan kendali, teknologi IoT dengan kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas dan efisiensi.
Penguasaan terhadap teknologi di atas akan dapat mewujudkan kemandirian yang sangat mendukung otomatisasi proses yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan yang berkelanjutan mengikuti perkembangan teknologi dan revolusi industri 4.0.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
