Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebutkan enam unit mesin desalinasi untuk mengolah air payau menjadi air layak konsumsi telah terbangun di wilayah pantai utara (pantura).
Kepala Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Jateng Hanung Triyono, di Semarang, Senin, mengatakan bahwa desalinasi adalah jawaban sederhana atas persoalan kompleks pesisir.
Menurut dia, program desalinasi lahir dari kolaborasi lintas sektor, yakni Pemprov Jateng, badan usaha milik daerah (BUMD), dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang sebagai pengembang teknologi.
Enam unit mesin desalinasi berdiri di berbagai wilayah pantura Jateng, untuk mengubah air payau menjadi air tawar yang siap diminum.
Dari enam unit desalinasi, tiga dibangun langsung oleh Pemprov Jateng melalui DPU BMCK, masing-masing di Desa Randusanga Kulon (Brebes), Desa Banjarsari Kecamatan Sayung (Demak), dan Desa Banyutowo Kecamatan Dukuhseti (Pati).
Satu unit lainnya dibangun BUMD Tirta Utama Jawa Tengah (TUTJ) di Rusunawa Slamaran, Kecamatan Krapyak Lor, Kota Pekalongan, sedangkan dua unit tambahan berdiri di Kabupaten Demak dan Rembang melalui kolaborasi DPU BMCK dan Bank Jateng.
"Prinsipnya sederhana, tetapi manfaatnya sangat besar. Program ini sangat membantu masyarakat pesisir utara Jawa Tengah," katanya.
Ia menjelaskan satu mesin desalinasi mampu memproduksi sekitar 4.000 liter air bersih per hari, setara 200 galon atau mencukupi kebutuhan sekitar 400 rumah per bulan.
Artinya, kata dia, satu unit mesin cukup untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat di satu desa.
Air laut yang selama ini menjadi ancaman, diolah melalui lima tahapan, yakni sand filter, membran reverse osmosis (RO), dua tahap karbon, dan penyinaran ultraviolet.
Hasilnya adalah air minum yang telah diuji di laboratorium independen terakreditasi, dengan total zat terlarut (TDS) hanya 62 mg/liter, jauh di bawah ambang batas Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.
Pengelolaannya pun diserahkan kepada masyarakat, yakni BUMDes atau kelompok pengelola air desa dipercaya mengoperasikan mesin dan menjual air dengan harga sekitar 50 persen lebih murah dari harga pasar.
Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk biaya listrik dan perawatan mesin desalinasi.
Pemprov Jateng pun telah menyiapkan langkah lanjutan, yakni membangun dua unit desalinasi tambahan, dengan alternatif lokasi di Tegal, Pemalang, dan Demak pada 2026 menyesuaikan kemampuan anggaran.

