Solo (ANTARA) - Technopreneurship menjadi salah satu gagasan yang disampaikan oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., dalam menghadapi disrupsi digital.
Suranto dalam jumpa pers dengan topik “Technopreneurship: Mengasah Bakat, Menumbuhkan Kemandirian” di Solo, Jawa Tengah, Senin menilai Technopreneurship menjadi salah satu kunci strategis dalam menjawab tantangan dunia pendidikan dan ketenagakerjaan di era transformasi digital.
Menurut Suranto, technopreneurship memiliki peran penting dalam merespons pesatnya perkembangan teknologi, keterbatasan lapangan kerja, serta tuntutan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Lulusan SMK dan pendidikan vokasi tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menjadi pencipta solusi berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Suranto.
Ia menambahkan technopreneurship mendorong lahirnya generasi muda yang mandiri secara ekonomi, berdaya saing, serta memiliki karakter kreatif, adaptif, dan beretika dalam menghadapi era industri 4.0 dan society 5.0.
Suranto menyoroti tingginya angka pengangguran terdidik yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri (DUDI). Technopreneurship hadir sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja melalui wirausaha berbasis teknologi.
“Lulusan harus berperan sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan lapangan kerja baru, mempercepat hilirisasi riset, serta memperkuat ekonomi digital secara berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kampus dipandang sebagai ruang strategis untuk mengembangkan potensi mahasiswa secara terintegrasi antara akademik, vokasi, dan kewirausahaan. Melalui inkubator bisnis berbasis teknologi, mahasiswa dapat bereksperimen, berinovasi, dan belajar langsung membangun usaha.
“Technopreneurship di kampus diharapkan membentuk mental mandiri, kepemimpinan, etos kerja, serta orientasi kemanfaatan sosial yang berlandaskan nilai-nilai moral,” jelas Guru Besar tersebut.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan nilai Al-Qur’an yang menegaskan bahwa setiap manusia dianugerahi potensi dan akal sebagai amanah yang harus dikelola secara produktif (Q.S. Al-Lail: 4). Perguruan tinggi diarahkan tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja yang berakhlak dan berdaya saing.
Ia menekankan pentingnya kemandirian lulusan SMK dan perguruan tinggi vokasi melalui penguasaan keterampilan teknis, soft skills, hard skills, serta pengalaman kerja nyata. Kurikulum juga harus selaras dengan kebutuhan industri, didukung program magang, teaching factory, dan inkubator bisnis.
“Pembentukan karakter, literasi digital, kemampuan problem solving, serta jiwa wirausaha menjadi bekal utama agar lulusan siap kerja, adaptif, dan mandiri,” tuturnya.
Ia menjelaskan kebaruan technopreneurship terletak pada integrasi pembelajaran berbasis teknologi, inkubator bisnis, serta pendekatan experiential learning. Tidak hanya fokus pada teori tetapi juga praktik, kolaborasi lintas disiplin, dan hilirisasi riset.
“Penguatan nilai etika, keberlanjutan, dan dampak sosial menjadi pembeda utama dengan kewirausahaan konvensional,” imbuhnya.
Ke depan, technopreneurship diharapkan mampu melahirkan lulusan mandiri, inovatif, dan berakhlak yang mampu membangun startup berkelanjutan. Dampaknya diharapkan mencakup penurunan angka pengangguran, peningkatan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi digital nasional.
Selain itu, technopreneurship diyakini dapat membangun budaya inovasi di kampus dan mendorong kontribusi nyata pendidikan tinggi dalam pembangunan nasional, sejalan dengan Asta Cita, SDGs, serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan RPJP-UMS dengan konsep Triple Seven (777).
Meski memiliki potensi besar, Suranto mengakui adanya sejumlah tantangan dalam pengembangan technopreneurship, seperti keterbatasan sumber daya, kesiapan dosen, budaya akademik, serta keberlanjutan pendanaan.
Namun demikian, kontribusinya bagi dunia pendidikan sangat signifikan, mulai dari penguatan relevansi kurikulum, pembelajaran aplikatif, hingga kolaborasi dengan industri.
“Technopreneurship mendorong transformasi pendidikan dari pencetak pencari kerja menjadi pencipta solusi dan lapangan kerja,” katanya.
Dengan fondasi nilai keislaman dan semangat inovasi, lanjutnya, technopreneurship di perguruan tinggi diharapkan menjadi instrumen strategis dalam membangun generasi unggul, mandiri, berakhlak mulia, serta mampu mencerahkan dan memakmurkan kehidupan bangsa.

