Purwokerto (ANTARA) - Raut letih Abdul Mungid perlahan berubah menjadi senyum lega, ketika kedua tangannya menggenggam kemudi becak listrik baru yang ia terima. Kendaraan itu memberi napas segar bagi lelaki sepuh yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup pada kayuhan.
Di halaman Pendopo Si Panji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Mungid bersama ratusan pengemudi becak duduk berjejer dengan wajah bahagia yang sulit disembunyikan.
Ada yang memandangi becak listrik itu sambil tersenyum, ada yang sesekali menyeka mata, dan ada pula yang tak henti-hentinya meraba bodi kendaraan baru yang akan menjadi penopang hidup mereka.
Bantuan sebanyak 280 unit becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto, melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), itu bagai hadiah besar bagi para penarik becak di Banyumas, yang selama ini harus bertahan dengan tenaga yang kian terbatas dan pendapatan harian yang tak menentu.
Program becak listrik ini merupakan bagian dari upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil.
Di antara mereka yang menerima manfaat langsung adalah para penarik becak sepuh, yang bahkan di usia 70-an masih bekerja setiap hari demi sesuap nasi.
“Tenaga sudah habis, tapi kewajiban hidup tetap jalan,” ucap Abdul Mungid.
Lansia asal Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Banyumas, itu dalam kesehariannya mengemudi becak kayuh di wilayah Kecamatan Purwokerto Timur. Ia mangkal di dekat Puskesmas Purwokerto Timur II, mengangkut penumpang yang kadang datang, kadang tidak.
Ia pun menceritakan pendapatan dari becaknya sangat bergantung pada kemampuan fisiknya.
“Kalau dulu, kalau sedang dapat uang ya Rp200 ribu, Rp150 ribu. Tapi setelah banyak kendaraan, ini ya minimal Rp50 ribu, Rp100 ribu ke bawah itu sering, kadang-kadang kosong,” katanya.
Kadang ia sanggup mengayuh, kadang tidak. Kalau sedang kecapekan, ia pun menolak calon penumpang.
Hari itu, wajahnya tampak berbeda: berbinar, sekaligus terasa seperti menemukan kembali harapan.
“Saya menerima becak ini sangat bersyukur. Untuk narik becak, tenaga itu terkuras, tapi sekarang ada mesinnya. Maka saya sangat terima kasih pada Bapak Prabowo dan panitia-panitia yang melaksanakan penerimaan ini,” ucapnya.
Ia mengharapkan keberkahan menyertai pemberi bantuan. Baginya, dengan becak listrik, meskipun tubuh tua mulai rapuh, ia tetap bisa bekerja.
Dengan becak elektrik itu, dia tetap bisa mengantarkan penumpang sampai tujuan, walaupun dalam kondisi capek. Mungid mengharapkan semuanya dapat berjalan lancar.
Penerima bantuan lainnya, Sugeng Riyanto (55) mengaku sehari-harinya mengayuh becak di wilayah perkotaan Purwokerto, meskipun dia tinggal di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas.
Meskipun tenaganya tak sekuat dulu, dia mengatakan kondisi ekonomi memaksanya bertahan. “Orang kecil itu susah, tapi hidup harus jalan,” katanya.
Menurut dia, pendapatannya sebagai pengemudi becak tidaklah menentu karena rata-rata hanya berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari. Bahkan, kadang hanya Rp15 ribu hingga Rp20 ribu sehari.
Penghasilan dari becak itu digunakan untuk menafkahi empat cucunya, karena anak-anak Sugeng telah meninggal dunia. Menurut dia, paling tidak penghasilannya sebesar Rp40 ribu per hari agar kebutuhan makan bisa terpenuhi.
Beberapa kali ia harus memilih antara bekerja, meski tubuh tak kuat, atau beristirahat, tetapi kehilangan pendapatan.
Oleh karena itu, baginya, program bantuan tersebut bukan sekadar kendaraan, tapi penyelamat.
Dengan becak listrik, ia merasa peluang hidup lebih baik mulai terbuka kembali.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengaku tidak menyangka jumlah bantuan yang datang jauh lebih besar dari yang diajukan.
Pemkab Banyumas mengajukan permohonan lewat Badan Pengentasan Kemiskinan, 188 unit, tapi dari Yayasan GSN tiba-tiba dikirim 280.
Jumlah bantuan yang bertambah secara mendadak itu membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat mendata para penarik becak sesuai kriteria, khususnya usia. Dalam hal ini, usia penerima bantuan becak listrik minimal 55 tahun.
Bupati mengatakan 280 becak listrik itu didistribusikan untuk pengemudi becak di wilayah Purwokerto sebanyak 100 unit, Kecamatan Banyumas 100 unit, dan Kecamatan Sokaraja 80 unit.
Tidak hanya becak, bantuan lain ikut disalurkan oleh Yayasan GSN berupa 21 unit kacamata akal imitasi (AI), tablet pintar untuk enam sekolah dasar di daerah yang tidak terjangkau jaringan internet, dan paket sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.
Lebih lanjut, Bupati mengatakan Presiden Prabowo Subianto ingin para penarik becak di seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 80 ribu orang, menerima becak listrik secara bertahap, dengan satu pesan penting, “Jangan dijual. Kalau ketahuan dijual, becaknya akan ditarik kembali,” katanya, menirukan pesan presiden.
Ia mengatakan berbagai bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas dan perhatian bagi masyarakat kecil. Ia mengharapkan program ini membawa dampak nyata pada percepatan penurunan kemiskinan di Banyumas.
Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko mengatakan program itu bukan prioritas khusus Banyumas, melainkan program nasional yang sasarannya seluruh Indonesia.
“Bukan karena Pak Prabowo orang Banyumas. Tidak pernah membedakan suku, asal, dari mana. Semua sama,” katanya.
Ia mengatakan Yayasan GSN yang didirikan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Agustus 2024 memiliki tiga fokus besar, yakni pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan.
Program becak listrik termasuk dalam upaya menekan kemiskinan melalui peningkatan produktivitas pengemudi becak.
Ide becak listrik muncul ketika Presiden Prabowo melihat seorang penarik becak berusia sekitar 70 tahun yang masih bekerja berat di jalanan.
Prabowo berinisiatif membuat becak listrik yang ringan dan meningkatkan pendapatan. Yang dulunya dua-tiga jam sudah lelah, sekarang bisa delapan hingga 10 jam.
Secara nasional, GSN menargetkan sebanyak 10 ribu unit becak listrik tersalurkan pada tahun 2025 dan hingga saat ini sudah terealisasi sekitar 3.000 unit. Sementara pada tahun 2026 ditargetkan sebanyak 30 ribu unit dan seterusnya hingga mencapai target 80 ribu unit di seluruh Indonesia
GSN juga meminta pemerintah daerah menyediakan colokan listrik di titik mangkal becak, agar para pengemudi bisa mengisi daya sambil menunggu penumpang.
Teguh mengingatkan becak listrik tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Jika disalahgunakan, sanksinya berupa penarikan kembali becak tersebut untuk diberikan kepada pebecak lain.
Jika becak rusak, para pengemudi dapat menghubungi yayasan atau bengkel rekanan, dan perbaikan akan difasilitasi.
Jika pengemudi becak sudah terlalu tua, becak boleh dialihkan kepada anaknya yang juga bekerja sebagai penarik becak.
Harapan baru
Di lapangan, becak listrik bukan sekadar modernisasi transportasi tradisional. Ia menjadi alat pemberdayaan sosial yang nyata, yakni memberi tenaga baru bagi yang sudah habis tenaganya, memberi peluang bagi mereka yang hidup pas-pasan, serta memberi ruang bagi para penarik becak untuk mempertahankan martabat kerja mereka.
Mungid yang renta, Sugeng yang hidup bersama cucu-cucunya, dan puluhan pengemudi becak lain, kini memulai hari dengan langkah berbeda. Bukan lagi sekadar menunggu penumpang sambil mengusap keringat yang menetes karena lelah mengayuh, tetapi menunggu dengan keyakinan bahwa kini hidup mereka sedikit lebih ringan.
Para penarik becak itu pulang membawa becak baru yang bukan hanya alat transportasi, tetapi simbol keberpihakan negara kepada rakyat kecil. Dan di antara riuh tepuk tangan, senyum, serta doa-doa lirih, harapan baru lahir di Banyumas.
Baca juga: Program becak listrik bantuan Presiden jangkau 280 pengemudi di Banyumas

