Klaten (ANTARA) - Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah membuka layanan bedah jantung terbuka sebagai bagian dari perluasan fasilitas untuk pasien.
Peluncuran layanan baru tersebut dilakukan secara langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D, didampingi oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., Senin.
Terkait pembukaan layanan tersebut, Dante mengatakan pemerintah terus memperluas akses layanan bedah jantung terbuka di Indonesia dengan menambah layanan tersebut di sejumlah rumah sakit.
“Pada tahun 2012, kami mengidentifikasi bahwa rumah sakit yang mampu melakukan bedah jantung terbuka di Indonesia jumlahnya hanya sekitar sepuluh rumah sakit, padahal kebutuhan akan layanan bedah jantung sangat tinggi,” katanya.
Ia mengatakan angka kasus kelainan jantung pada anak di dalam negeri mencapai 8-9 kasus untuk setiap 1.000 kelahiran hidup. Ia mengatakan jumlah ini sangat besar.
“Belum lagi kasus penyakit jantung koroner yang tidak dapat ditangani dengan pemasangan stent atau balon, sehingga harus dilakukan tindakan bypass melalui bedah jantung terbuka,” katanya.
Oleh karena itu, dikatakannya, pemerintah mengembangkan layanan bedah jantung terbuka tersebut. Saat ini layanan tersebut sudah bertambah menjadi 35 sentra di 30 provisi di Indonesia.
“Dengan penambahan satu sentra lagi, termasuk Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro ini, kini terdapat 36 rumah sakit di Indonesia yang mampu melakukan bedah jantung terbuka. Di Jawa Tengah sendiri ada dua, di RS Kariadi (RSUP Dr Kariadi Semarang) dan di Klaten,” katanya.
Dengan demikian, diharapkan bedah jantung terbuka tidak lagi menjadi sesuatu yang dianggap mewah.
Sementara itu, untuk tindakan tersebut tetap dibutuhkan pengampuan, di tingkat nasional pengampuan dilakukan oleh RS Jantung Harapan Kita dan di tingkat regional yang dibagi di Indonesia bagian barat, Indonesia tengah, dan Indonesia bagian timur.
“Tujuannya untuk mensupervisi kegiatan operasi bedah jantung terbuka. Supaya dokter di rumah sakit ini sama kualitasnya dengan rumah sakit-rumah sakit lain yang bisa melakukan bedah jantung terbuka,” katanya.
Ia mengatakan untuk tindakan bedah jantung terbuka ini ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan sehingga pasien tidak dikenakan biaya.
“Setiap kali operasi dilakukan diharapkan satu nyawa dapat diselamatkan,” katanya.
Pihaknya mencatat pembiayaan penyakit jantung secara nasional mencapai lebih dari Rp19 triliun/tahun untuk BPJS Kesehatan.
“Ditambah lagi faktor risiko seperti kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes menjadi penyumbang timbulnya penyakit jantung di masyarakat. Ditambah lagi kelainan jantung bawaan tadi,” katanya.

