Logo Header Antaranews Jateng

BRIN mendukung nelayan ciptakan ekonomi biru lewat kapal tenaga surya

Kamis, 15 Januari 2026 09:59 WIB
Image Print
Sejumlah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama nelayan melakukan uji coba kapal listrik dengan kotak pendingin bertenaga surya di wilayah Pulau Tunda, Banten, Rabu (14/1/2026). ANTARA/HO-BRIN

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung upaya nelayan kecil dalam menciptakan ekonomi biru yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia dengan meluncurkan kapal listrik dengan pendingin bertenaga surya.

Kapal tersebut diluncurkan dalam kegiatan "Clean Energy Electric Boat Innovation Expo", di Pulau Tunda, Banten, Rabu (14/1), sebagai bagian dari Proyek SeaBLUE yang dijalankan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Jepang.

"Kemitraan kami dengan UNDP memastikan bahwa kapal listrik tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Kepala BRIN Arif Satria melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

Arif menyoroti pentingnya inovasi ini dari sisi teknis. Menurutnya, transisi menuju kapal bertenaga listrik merupakan langkah krusial dalam upaya dekarbonisasi sektor perikanan.

"Dengan mengombinasikan penyempurnaan desain, pelatihan langsung, dan pemantauan berkelanjutan, kami membangun fondasi untuk implementasi yang lebih luas di wilayah pesisir Indonesia," ujar Arif.

Lebih lanjut Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN Aam Muharam memaparkan lewat proyek SeaBLUE, UNDP memperkenalkan kapal listrik dan cooler box atau kotak pendingin bertenaga surya untuk membantu nelayan kecil menurunkan biaya bahan bakar, mengurangi emisi, dan menjaga kesegaran hasil tangkapan.

Bekerja sama dengan BRIN dan KKP, kata dia, proyek ini mengombinasikan pelatihan praktis dan dukungan teknis guna memastikan kapal yang digunakan aman, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan.

Baca juga: HNSI Batang mengimbau nelayan berhenti melaut karena gelombang tinggi



Pewarta :
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026