
HNSI Batang mengimbau nelayan berhenti melaut karena gelombang tinggi

Batang (ANTARA) - Himpunan Nelayan Indonesia Kabupaten Batang, Jawa Tengah mengimbau nelayan untuk menghentikan sementara aktivitas melaut menyusul kondisi cuaca ekstrem yang memicu terjadinya gelombang tinggi di laut.
Ketua HNSI Kabupaten Batang Teguh Tarmujo di Batang, Rabu, mengatakan bahwa puncak musim baratan terjadi dalam beberapa hari terakhir dan diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
"Saat ini, kondisi pantai jelas terlihat ombak besar. Oleh karena itu, keselamatan adalah prioritas utama. Kami minta para nelayan tidak melaut dulu sementara waktu," katanya.
Sekitar 10 ribu nelayan, katanya, kini menghentikan sementara aktivitas melaut dan memanfaatkan waktunya untuk memperbaiki kapalnya masing-masing.
Menurut dia, sejak Desember 2025 hingga Februari 2026, merupakan puncak musim hujan dengan kondisi laut yang sering tidak bersahabat, sehingga berbahaya bagi keselamatan nelayan.
"Sebagian besar nelayan, baik skala kecil maupun menengah, memanfaatkan masa jeda ini untuk memperbaiki alat tangkap, kapal, serta perlengkapan lainnya," katanya.
Hanya saja, dengan berhentinya para nelayan tidak melaut menimbulkan dampak ekonomi masyarakat pesisir, karena mereka tidak memiliki pendapatan tetap selain hasil menangkap ikan dari melaut.
"Jika tidak melaut, tidak ada penghasilan. Ini adalah masa paceklik yang dipaksa oleh alam," katanya.
Secara administratif, peluang melaut masih terbuka, karena Syahbandar Perikanan belum menghentikan penerbitan izin berlayar. Namun, hal ini juga menciptakan dilema antara mempertaruhkan keselamatan jiwa nelayan dan tekanan memenuhi kebutuhan ekonomi.
"Kami tidak bisa melarang sepenuhnya, karena tuntutan hidup. Berbeda dengan pekerja tetap, penghasilan nelayan 100 persen bergantung pada tangkapan ikan," katanya.
Baca juga: Pemkot Semarang salurkan 400 paket sembako untuk nelayan saat tidak melaut
Pewarta: Kutnadi
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
