Semarang (Antaranews Jateng) - Dinas Perikanan Kota Semarang telah menyalurkan sebanyak 960 paket sembako kepada nelayan di wilayah tersebut sebagai bantuan paceklik karena mereka tidak bisa melaut.
"Beberapa waktu lalu, nelayan kan menghadapi musim paceklik karena kondisi cuaca tidak bersahabat dan gelombang tinggi," kata Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang I Gusti Made Agung di Semarang, Senin.
Menurut Made, aktivitas dan penghasilan nelayan menjadi terhenti dengan tidak bisanya mereka melaut sehingga perlu diberikan bantuan sembako untuk membantu mereka mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Ia menyebutkan setiap paketnya berisi beras sebanyak 10 kilogram yang dibagikan kepada 960 kepala keluarga (KK) atau nelayan agar setidaknya bisa membantu selama mereka tidak bisa melaut.
Dipastikan, bantuan paceklik untuk nelayan tersebut juga tepat sasaran karena diberikan sesuai data yang bersifat "by name by addres" sehingga pendataan nelayan memang sangat penting.
"Bantuan hanya beras, tetapi sudah dihitung untuk membantu selama nelayan belum bisa melaut. Namun, sudah ada juga bantuan `corporate social responsibility (CSR) dari beberapa perusahaan," katanya.
Yang jelas, Made mengatakan bantuan paceklik itu merupakan bentuk kehadiran pemerintah terhadap para nelayan yang tengah menghadapi paceklik sebagaimana diamanatkan Wali Kota Semarang.
Masyarakat nelayan di Kota Semarang, kata dia, tersebar di berbagai wilayah di pesisir, seperti Mengunharjo, Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Tambaklorok, Bandarharjo, dan Trimulyo.
"Paling banyak (nelayan, red.) ada di wilayah Mangunharjo dan Tambaklorok. Kalau di wilayah-wilayah lain relatif sedikit, seperti di Trimulyo hanya sekitar 20 nelayan," katanya.
Meski kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, kata dia, ternyata masih ada nelayan Semarang yang nekat melaut karena terdesak dengan kebutuhan sehari-hari agar dapur tetap "ngebul".
"Akhirnya, ada satu nelayan yang tewas tenggelam. Ada juga satu nelayan yang juga meninggal saat mengikatkan kapal, tetapi terpeleset. Sudah dibawa ke rumah sakit, akhirnya meninggal," katanya.
Kedua nelayan itu, kata dia, mendapatkan santunan masing-masing sebesar Rp10 juta yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kepada ahli warisnya.
"Kami berharap nelayan tidak memaksakan diri untuk melaut kalau kondisi cuaca tidak mendukung. Yang paling penting adalah keselamatan. Makanya, di sinilah pentingnya kehadiran pemerintah," katanya.

