RS Muhammadiyah-'Aisyiyah tangani sekitar 5.000 pasien COVID-19

id RSMA,rumah sakit muhammadiyah 'aisyiyah,Muhammadiyah Covid 19 Command Center MCCC,Muhammadiyah Covid 19 Command Center,M

RS Muhammadiyah-'Aisyiyah tangani sekitar 5.000 pasien COVID-19

Tangkapan layar konferensi pers virtual bersama Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah Agus Samsudin yang dipantau dari Jakarta, Rabu (27/5/2020). ANTARA/Anom Prihantoro

Jakarta (ANTARA) - Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) menyebut Rumah Sakit Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (RSMA) di seluruh Indonesia telah menangani hampir 5.000 pasien COVID-19, mulai dari PDP, ODP, hingga positif terinfeksi virus corona jenis baru itu.

"Berdasarkan update 26 Mei 2020, pukul 16.00 WIB tercatat 77 RSMA yang merawat pasien COVID-19 dengan jumlah kasus yang ditangani, yaitu ODP 3.126, PDP 1.623 orang dan positif 235 orang," kata Ketua MCCC PP Muhammadiyah Agus Samsudin dalam jumpa pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan RSMA mengalokasikan bangsal-bangsal khusus untuk pasien COVID-19 terkonfirmasi dengan total 546 tempat tidur yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia.

Selanjutnya, kata dia, terdapat pendanaan lembaga amil zakat milik Muhammadiyah, Lazismu, yang menjadi penopang utama kegiatan MCCC bersama kemitraan lain dengan lembaga pemerintah dan nonpemerintah.

Baca juga: Muhammadiyah siapkan RS tangani pasien corona

Agus berharap tren jumlah penderita COVID-19 dapat turun semakin landai sehingga pandemi dapat segera diakhiri dengan baik. Terlebih penularan corona jenis baru SARS-CoV-2 telah memicu dampak nyata sehingga nyaris seluruh unit bisnis berhenti beroperasi.

Baca juga: Penjagaan RS PKU Solo diperketat jelang kelahiran cucu Presiden

Akibat corona, kata dia, sejumlah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja marak, sementara itu banyak layanan-layanan publik terhenti, omzet bisnis turun. Hal itu terjadi di banyak tempat di Indonesia.

COVID-19, lanjut dia, telah membuat perubahan kebiasaan masyarakat dalam pola hidup, termasuk penggunaan media digital. Hal itu harus direspons dengan baik agar diarahkan untuk menekan penularan SARS-CoV-2.

"Untuk itu, kini kita bersyukur program sejumlah pemangku kepentingan yang awalnya bersifat kuratif, kita menuju program yang terkait edukasi dan sosialiasi sehingga menekan penularan," katanya.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar