"Saya sudah 'kateringan', termasuk ini (masakah sembahyang, red.) sejak anak saya berusia tujuh bulan. Sekarang anak saya sudah 14 tahun," kata pedagang makanan sembahyang Bie Ling di Semarang, Kamis.
Meski sudah puluhan tahun menekuni bisnis katering dan makanan sembahyang, perempuan itu mengaku baru sekitar enam tahun belakangan makanan untuk sembahyang yang dibuatnya mulai ramai dipesan.
Makanan sembahyang yang dimaksud adalah masakan khas untuk keperluan sembahyang bagi pemeluk Tri Dharma. Usaha pembuatan makanan sesaji itu memang masih sangat jarang, termasuk di Kota Semarang.
Pemilik Tulip Catering itu menjelaskan ada tujuh jenis masakan khas sembahyang, yakni opor ayam, sambal goreng rempela ati, babi cin, ayam O, ca bung, kuah tahu pong, serta sayur sawi oyot.
"Ketujuh masakan ini wajib ada, khususnya sayur sawi oyot. Masakan terakhir ini berbahan sawi utuh hingga akarnya. Pesanan biasanya satu paket. Harga setiap masakan berkisar Rp20--Rp35 ribu/jenis," katanya.
Ia mengatakan sembahyang yang memerlukan sesaji masakan-masakan itu biasanya dilakukan untuk keluarga atau nenek moyang yang telah meninggal dan dilakukan di rumah, bukan sembahyang di kelenteng.
"Untuk sembahyang pada leluhur ini ada dua, yakni mati baru dan mati lama. Mati baru adalah leluhur yang meninggalnya kurang dari dua tahun. Sembahyang ini dilakukan dua hari sebelum Imlek," katanya.
Kalau untuk leluhur yang sudah meninggal lebih dari dua tahun dinamakan mati lama, ungkap dia, sembahyangnya dilakukan satu hari sebelum Imlek dengan tujuh masakan khas itu untuk sesajinya.
"Sebenarnya bukan hanya Imlek saja. Nanti, antara tanggal 25 Maret--15 April ada sembahyang lagi. Istilahnya bersih kubur. Setelah itu, pada bulan ketujuh Imlek juga ada ibadah Jit Gwee," katanya.
Berkaitan dengan masakan sesaji, ia mengatakan sesaji untuk sembahyang leluhur memang masakan khas semacam itu, berbeda dengan sesaji untuk sembahyang dewa yang biasanya bentuknya buah-buahan.
"Untuk Imlek ini, saya sudah mendapat 47 pemesan masakan ini. Memang kalau menjelang Imlek ramai seperti ini, namun dibandingkan tahun lalu lebih sepi. Sekarang banyak orang 'ngirit'," kata Bie Ling.

