Logo Header Antaranews Jateng

Wamen Fajar Riza Ul Haq sebut Pondok Shabran UMS wadah tempa pemimpin bangsa

Senin, 12 Januari 2026 13:51 WIB
Image Print
Pemaparan materi oleh Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., selaku Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Alumni Mahasantri Pondok Shabran UMS di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Republik Indonesia Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., menyebut Pondok Sabhran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sebagai wadah untuk menempa pemimpin bangsa.

Pada kegiatan tersebut, Fajar juga menjadi salah satu narasumber pada Talkshow dan Ramah Tamah yang diselenggarakan oleh Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS dalam kegiatan Semarak Milad ke-43 Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS di Lapangan Pondok Hajjah Nuriah Shabran UMS Solo, Jawa Tengah, Sabtu.

Fajar yang juga alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS angkatan tahun 1998 ini mengungkapkan rasa senang dan bahagia bisa kembali pulang ke Pondok Shabran UMS untuk nostalgia masa-masa menjadi mahasantri.

“Mungkin kunjungan saya di UMS sudah terbilang sering, tapi hadir di acara alumni pondok shabran saya jarang mengikut. Maka, ini sebuah kebahagiaan bisa kembali bernostalgia masa-masa menjadi mahasantri,” ungkapnya.

Mengawali materinya dengan menceritakan masa-masa pendidikannya di Pondok Shabran dan UMS. Fajar merupakan sosok mahasiswa aktivis tulen, ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran, IMM Cabang Sukoharjo, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam (BEM-FAI), dan BEM-UMS.

“Selama dua dekade dinamika kehidupan saya, sebagian besar atas pengaruh di Pondok Shabran UMS, ditempa menjadi seorang aktivis”, tuturnya.

Menjadi seorang aktivis sebuah hal candu yang Fajar rasakan, selesai dari masa perkuliahan, Fajar mendaftar pekerjaan di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) UMS dan melanjutkan karir di Maarif Institute, lembaga manifestasi pemikiran Ahmad Syafii Maarif. Menurutnya, yang menjadikan Fajar dekat dengan urusan pemerintahan semenjak bekerja di Maarif Institute yang membidangi birokrasi lembaga.

“Ketika di Maarif Institute saya fokus di birokrasi lembaga, hal itu yang menjadikan saya ditarik oleh Pak Muhadjir Effendy untuk menjadi staf khusus menteri saat itu”, katanya.

Menjadi Wakil Menteri pendidikan dasar dan menengah merupakan profesi yang melenceng dari latar belakang akademinya. Jejak akademik yang ditempuh oleh Fajar tidak ada satupun yang fokus pada dunia pendidikan. Menurutnya, belajar menjadi seorang aktivis dan belajar menjadi pemimpin Muhammadiyah merupakan proses pembentukan jati dirinya hingga saat ini.

“Dua kelebihan menjadi aktivis dan pemimpin Muhammadiyah, Pertama: Cepat beradaptasi, dan Kedua: Cepat dalam belajar hal baru. Dua kelebihan tersebut menjadi kunci kesuksesan yang saya rasakan,” katanya.

Ia mengatakan alumni-alumni Pondok Shabran UMS telah berdiaspora di seluruh penjuru bangsa. Hal ini dibuktikan dengan perjalanannya selama menjalani tugas Wakil Menteri bertemu dengan para alumni Shabran UMS yang berkiprah di pelosok-pelosok bangsa, pemerintahan kota, pemerintahan wilayah, bahkan di pemerintahan pusat.

Terkait hal itu, ia berharap agar diaspora alumni-alumni Pondok Shabran UMS harus dimobilisasi dengan baik, karena merupakan modal sosial yang luar biasa bagi UMS untuk menjadi institusi besar. Ia juga berharap kiprah diaspora para alumni Pondok Shabran UMS bisa diwariskan ke mahasantri-mahasantri yang sedang berjuang saat ini.

Menutup sesi pemaparan materi, ia mengungkapkan rasa bangga menjadi bagian dari Pondok Shabran UMS. Menurutnya Pondok Shabran UMS tempat kaderisasi talenta-talenta muda Muhammadiyah.

“Talenta-talenta telah dilahirkan dari Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS,” tutupnya.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026