Hal ini merupakan situasi bersamaan dengan semakin lemahnya pemahaman masyarakat akan kebudayaan sebagai dasar dari kehidupan, kata Kepala Pusat Studi Javanologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Sahid Teguh Widodo, Kamis.
Dia mengatakan hal tersebut terkait akan diselengarakannya 'Seminar Nasional dan Festival Seni Tayub Nusantara' di Solo.
Ia mengatakan seni tayub merupakan produk kebudayaan yang mempunyai nilai tinggi. Seni tayub asalnya seni budaya tinggi untuk menggugah semangat perang para pejuang dalam melawan kolonial Belanda pada masa perang Raden Mas Said, dan kenyataannya telah hidup berabad-abad lamanya.
"Kesenian ini bisa hidup berabad-abad tidak mungkin kalau tidak mempunyai nilai tinggi. Hal ini kenyataannya sampai sekarang juga masih hidup," katanya.
Festival seni tayub ini akan diikuti oleh delapan grup kesenian tersebut, mereka berasal dari Sragen, Malang, Sumedang, Sumenep, Banyuwangi dan Madura, kata Dr Slamet staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Ia mengatakan seni tayub dulunya berasal dalam tembok keraton, karena perkembangannya terus bisa tampil di luar tembok keraton sampai sekarang. Untuk seminarnya akan berlangsung Sabtu (7/4) di UNS dan festivalnya berlangsung tanggal 8 - 9 April 2012 di Pendapa ISI Surakarta.

