Buku PAUD ini kenalkan anak cara berpikir "out of the box"

id amurt indonesia,buku miniseri

Buku PAUD ini kenalkan anak cara berpikir "out of the box"

Buku "Caping Kita" dan "Semua Punya Rumah" terbitan AMURT Indonesia di antara tumpukan puluhan buku yang siap edar. Nur Hasanah

Semarang (ANTARA) - Yayasan berjaringan internasional Ananda Marga Universal Relief Team (AMURT) Indonesia dalam waktu dekat meluncurkan puluhan buku dengan sasaran anak usia dini.

Buku miniseri beragam tema yang lekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut ditulis dengan narasi singkat dan ilustrasi sederhana yang mudah dipahami anak usia dini.

Dari puluhan buku tersebut, setidaknya ada dua buku yang memikat dalam penyajian narasi karena membuat ending dengan mengenalkan anak cara melihat atau memahami di luar kebiasaan.

Pada buku "Caping Kita", misalnya, hingga halaman enam, pembaca disuguhi penggunaan penutup kepala oleh berbagai profesi, mulai dari petani hingga tukang becak. 

Baca juga: Cerita Pagi dari PAUD Darul Iman

Ini merupakan pemadangan biasa bahwa caping dipakai sebagai penutup kepala. Yang bikin unik, pada halaman terakhir, Nur Hasanah, penulis buku "Caping Kita", mampu memberi kejutan bahwa caping juga bisa digunakan seperti akuarium atau ember.

Dengan posisi terbalik, caping -- tentu di dalamnya sudah dilapisi lembaran kedap air -- bisa digunakan untuk menampung ikan dan air. Ilustrasi dan narasi tersebut membawa anak untuk berimajinasi bahwa dalam kondisi tertentu, sebuah benda bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang sama sekali berbeda dari yang biasanya digunakan.

Begitu pula pada buku "Semua Punya Rumah". Dengan didukung ilustrasi yang mudah dicerna, Nur Hasanah lagi-lagi mampu memberi kejutan imajinatif pada anak bahwa yang namanya rumah tidak selalu sesuatu yang statis atau menetap.

Sebuah rumah beserta penghuninya bisa pula mobile, bergerak dan dapat dibawa ke mana-mana seperti siput atau keong. 
 
Nur Hasanah. ANTARA/AZM

Nur, mantan guru PAUD yang kini berkarya di AMURT Indonesia, menceritakan butuh waktu beberapa hari untuk menciptakan narasi yang sebenarnya hanya beberapa kata dalam setiap lembar dan ditulis secara berulang itu. Bahkan, untuk menyusunnya perlu rapat koordinasi segala. 

“Ini adalah pengalaman pertama saya menulis buku, rasanya tidak percaya saya bisa melakukannya," ungkap Nur Hasanah ketika ditemui di Kantor AMURT Indonesia di Semarang, Kamis (10/10). (KSM)

Baca juga: AMURT Indonesia dorong dana desa untuk pengembangan PAUD

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar