Cilacap (ANTARA) - Tangan-tangan renta yang puluhan tahun menggenggam stang becak di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu akhirnya merasakan perubahan.
Saat usia kian menua, mereka memperoleh bantuan becak listrik yang diharapkan mampu meringankan beban dan membuka kembali peluang pendapatan yang lama meredup.
Lebih dari separuh hidupnya, Satiman (63) dari Desa Bulusari, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap Gunung Sari, Gandrung, hidup dari kayuhan becak manual. Sejak awal 1980-an, ia mengayuh becak kayu di jalanan yang dulu ramai penumpang.
“Waktu itu sehari bisa 10 sampai 20 tarikan. Hasilnya normal, cukup buat hidup,” katanya. Kini, ia mengaku sulit menentukan berapa pendapatan pasti setiap harinya. Kadang-kadang hanya mendapatkan Rp50 ribu atau Rp60 ribu karena penumpang jarang dan banyak orang pakai sepeda motor.
Di usia yang tak lagi muda, Satiman kerap harus menolak penumpang jika sudah terlalu lelah. Tetapi kini ia mencoba memulai harapan baru setelah menerima bantuan becak listrik yang dinilai meringankan tenaga.
“Mungkin nanti ada perubahan. Orang juga banyak yang penasaran, ingin coba becak listrik,” katanya.
Baginya, becak listrik bukan sekadar alat kerja baru, tapi juga simbol perhatian. Oleh karena itu, ia sangat berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto karena memberikan perhatian besar kepada masyarakat kecil, khususnya kalangan pengayuh becak.
Pengayuh becak yang biasa mangkal di sekitaran Alun-Alun Cilacap, Suradi (68) menyimpan rasa gembira sekaligus cemas. Warga Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, itu sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari becak kayuh atau manual, tapi perubahan zaman membuat jumlah penumpang menurun drastis.
“Senang dikasih becak listrik, tapi belum tahu nanti nariknya laku apa tidak,” katanya. Ia mengharapkan ada peluang yang kembali terbuka dengan adanya konsumen yang mau naik becak listrik.
Kendati begitu, ia mengakui kombinasi kayuhan dan tenaga listrik itu sangat membantu, sehingga tidak capek dan jauh lebih enteng.
Kamiun (58), warga Kelurahan Sidakaya, Kecamatan Cilacap Selatan, menyimpan kisah berbeda karena ia bukan asli pengayuh becak sejak muda. Sebelum tahun 1999, Kamiun adalah nelayan yang mencari ikan di laut. Namun, karena sudah tua dan tidak tahan terhadap udara dingin, ia memilih menjadi pengayuh becak.
Ia mengaku sangat terbantu dengan hadirnya becak listrik yang diyakini dapat meringankan tenaga terutama saat melewati jembatan di kompleks Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap (PPSC) maupun Kebon Baru.
Saat melewati jembatan yang menanjak itu, ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendorong becak kayuhnya. Namun dengan becak listrik, ia meyakini becaknya tidak perlu didorong saat melewati tanjakan tersebut.
Sebagai mantan nelayan, Kamiun memiliki beberapa pelanggan tetap di area pelabuhan, yang kerap meminta jasa antar-jemput barang terutama saat ada bongkar muatan kapal penangkap ikan
Dalam sekali angkut, barang yang ia bawa menggunakan becak kayuh bisa mencapai kisaran 100-200 kilogram.
Pendapatan yang diperoleh Kamiun setiap harinya pun tidak menentu karena kadang bisa mencapai Rp100 ribu, kadang hanya Rp50 ribu. Namun ketika ada kapal nelayan yang baru masuk pelabuhan, pendapatannya mengalami peningkatan.
Ia melihat kehadiran becak listrik sebagai peluang di tengah ketatnya persaingan dengan ojek daring. Saat ini, ibu-ibu rumah tangga banyak yang memilih naik ojek daring ketika hendak berpergian. “Tapi saya yakin becak listrik bisa bikin orang penasaran untuk mencobanya,” kata Kamiun.
Saat menyalurkan becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto di Cilacap, Jumat (5/12), Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN) Nanik S. Deyang mengatakan untuk tahap pertama, total 180 unit diberikan kepada pengayuh becak lansia. Dari jumlah tersebut, 80 unit untuk wilayah Sidareja dan 100 unit untuk wilayah Kota Cilacap
Sebelum penyerahan, seluruh penerima mengikuti pelatihan pengoperasian becak listrik, sehingga tidak langsung diserahkan. “Ada latihan dari tim YGSN, ada grup koordinasi, dan ada garansi dari PT Pindad yang membuat,” kata dia.
Syarat penerimanya pun sederhana, yakni usia yang diprioritaskan lansia lebih dulu karena mereka paling berat secara fisik untuk tetap bekerja sebagai pengayuh becak.
Nanik menegaskan bantuan tersebut merupakan sumbangan pribadi Presiden Prabowo Subianto, bukan dana pemerintah, dan nilainya sekitar Rp22 juta per unit. Semua itu dilakukan karena Presiden Prabowo ingin para pengayuh becak, terutama yang berusia 70 tahun ke atas, tidak lagi mengayuh becak sampai kelelahan,
Dia pun menceritakan bagaimana program ini dimulai sejak Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Melihat banyak pengayuh becak lansia yang tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi, Prabowo memutuskan untuk merancang sendiri model becak listrik, kemudian memesan ribuan unit untuk dibagikan secara bertahap.
“Bayangkan, ada yang usia 80 tahun masih narik becak, bahkan ada yang cacat tangan. Beliau bilang, tidak boleh ada orang tua di negeri ini yang harus mengayuh becak dalam kondisi seperti itu,” ungkap Nanik.
Dia mengharapkan becak listrik bisa menjadi alat pemberdayaan ekonomi sekaligus upaya pengentasan kemiskinan, karena banyak dari mereka sebelumnya menyewa becak Rp5 ribu per hari. Namun sekarang punya becak sendiri, sehingga pendapatan mereka diharapkan meningkat.
Tidak hanya itu, kehadiran becak listrik memberi manfaat bagi lingkungan. “Cilacap bisa lebih bersih karena becaknya pakai listrik semua, sehingga ramah lingkungan, kotanya lebih cantik,” katanya.
Sementara itu, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman mengapresiasi bantuan tersebut, karena becak listrik bukan hanya alat kerja, tapi juga peluang untuk menjaga kesehatan para pengayuh becak lansia. Para pengayuh becak banyak yang tidak mau berhenti bekerja, sehingga solusinya adalah meringankan beban fisik mereka dengan menggunakan becak listrik.
Dengan demikian, pendapatan para pengayuh becak berpeluang meningkat karena tidak ada lagi biaya sewa maupun bahan bakar. Pemerintah Kabupaten Cilacap juga akan memberikan pendampingan agar becak listrik tidak dijual atau dipindahtangankan.
Ke depan, Pemkab Cilacap akan mengupayakan ruang publik untuk tempat pengisian daya, salah satunya dengan mendorong dana pertanggungjawaban sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk mewujudkan kebutuhan tersebut.
Syamsul juga berharap becak listrik bisa menjadi bagian dari identitas kota sekaligus mendukung pariwisata. Becak listrik bisa jadi kendaraan alternatif yang nyaman dan aman bagi tamu hotel yang hendak menuju objek wisata maupun pusat kuliner.
Di balik angka dan kebijakan, kisah para pengayuh becak adalah wajah nyata kehidupan. Ada Satiman yang kembali bersemangat, Suradi yang berharap konsumen tak meninggalkan becak, dan Kamiun yang menemukan cara baru untuk bertahan setelah tidak lagi kuat menghadapi dingin laut.
Mereka adalah generasi yang pernah mengayuh becak puluhan kilometer sehari, tapi kini sering duduk berjam-jam menunggu penumpang. Perubahan zaman menggerus rezeki mereka, tetapi justru di usia senja, mereka memperoleh kembali harapan berupa alat kerja yang lebih ramah tubuh, gratis, dan berpeluang membuka jalan hidup baru.
Becak listrik mungkin tidak serta merta menghapus kemiskinan. Namun bagi mereka, ini adalah hadiah yang lebih besar dari sekadar kendaraan. Ini adalah bentuk dihargainya kerja keras seumur hidup, perhatian kepada warga yang paling rentan, dan kesempatan untuk tetap bermartabat di usia tua.
Di bawah terik matahari Cilacap, mereka kini mengayuh dengan energi baru berupa becak listrik yang lebih ringan, lebih tenang, dan lebih penuh harapan. Mereka tidak meminta banyak, hanya ingin tetap bisa bekerja tanpa harus menguras sisa tenaga yang masih mereka miliki.
Di antara suara sepeda motor, klakson kendaraan, serta riuh ojek daring, bunyi lembut becak listrik mengantar cerita baru, bahwa di usia senja pun, kesempatan untuk hidup lebih layak, masih mungkin didapatkan.
Baca juga: Becak listrik meringankan beban pengayuh lansia di Cilacap

