Semarang, ANTARA JATENG - Sekitar 500 pedagang yang menempati bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang menolak rencana relokasi yang dilakukan seiring dengan proyek normalisasi sungai tersebut dalam waktu dekat.
"Secara prinsip, kami mendukung 100 persen normalisasi Sungai BKT. Akan tetapi, kami menolak direlokasi," kata Ketua Paguyuban Pedagang Karya Mandiri Barito Blok A-H, Rahmat Yulianto, di Semarang.
Menurut dia, para pedagang Barito, demikian kawasan perdagangan itu biasa disebut, meminta solusi kepada pemerintah mengenai banyak persoalan apabila direlokasi ke Pasar Klithikan Penggaron, Semarang.
Ia menyebutkan setidaknya ada 500 pedagang yang menempati Blok A-H di sepanjang Jalan Barito, mulai Jembatan Kartini hingga Jalan Majapahit dengan berbagai jenis usaha, mulai onderdil mobil, ban, hingga besi.
Jumlah itu belum termasuk pedagang yang ada, mulai Jembatan Kartini hingga kawasan Kaligawe yang selama ini banyak ditempati pedagang, mulai aksesoris dan onderdil sepeda motor, hingga perkalengan.
"Kami sudah berkomitmen. Pertama, kami tidak akan menghalangi proyek normalisasi Sungai BKT. Kedua, dari awal kami mengharapkan Blok A-H tidak direlokasi karena tidak terdampak secara langsung," katanya.
Selama ini, Barito sudah menjadi ikon perdagangan di Kota Semarang yang dikenal luas sampai luar daerah sehingga sebaiknya jangan direlokasi, melainkan ditata menjadi pasar modern yang menarik sebagai destinasi.
Mengenai proyek normalisasi Sungai BKT, kata dia, hingga sekarang ini pihaknya siap membantu pemerintah, termasuk mengorbankan enam kios pedagang yang dibongkar untuk akses keluar masuk alat-alat berat.
"Sudah kami siapkan (akses masuk alat berat, red.). Jadi, kami tidak akan menghambat ataupun menghalangi normalisasi. Normalisasi dan relokasi harus dibedakan, kecuali tempat kami terkena langsung," katanya.
Ia mencontohkan pedagang di Pasar Kembang Kalisari yang juga berada di bantaran sungai yang tetap bisa ditata seiring program normalisasi sehingga pedagang Barito pun bisa dibenahi seperti di kawasan tersebut.
"Meski Pasar Klithikan Penggaron sudah disiapkan, masih ada banyak permasalahan, antara lain ukuran lapak yang hanya 2x3 meter persegi dan 3x3 meter persegi. Kebutuhan kami kira-kira 3x9 meter persegi," katanya.
Apalagi, kata dia, sampai saat ini Dinas Perdagangan tidak pernah membahas soal relokasi, melainkan membicarakan soal normalisasi Sungai BKT.
Ia mengaku sudah diundang hingga empat kali untuk sosialisasi.
"Saya sudah diundang sampai empat kali. Yang disampaikan, ya, hanya masalah normalisasi, terakhir juga sama. Sosialisasi tidak pernah menyangkut pembicaraan soal relokasi, bagaimana solusi terbaiknya," katanya.
Yang jelas, Rahmat mengkhawatirkan perekonomian yang selama ini sudah dirintis dan sudah berjalan dengan pesat di kawasan Barito akan mati karena ketidaksiapan konsep dan tempat relokasi yang disediakan pemerintah.

