Solo (ANTARA) - Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dinda Satriya Utama, S.Ars, sukses menjadi Duta Wisata Wonogiri 2025.
Alumni Program Studi Arsitektur
UMS ini membuktikan latar belakang akademik di bidang arsitektur tidak menghalangi kontribusi dalam sektor pariwisata.
Kecintaan Dinda terhadap Wonogiri telah tumbuh sejak lama. Ia mulai tertarik mengikuti ajang Duta Wisata sejak rutin menyaksikan malam grand final di Alun-Alun Giri Krida Bakti, Wonogiri.
“Dua kali saya nonton grand final dan dari situ muncul niat untuk ikut serta dan berkontribusi bagi daerah,” katanya.
Upaya pertamanya mendaftar pada 2021 belum membuahkan hasil, namun Dinda tidak patah semangat. Ia terus mengevaluasi diri hingga akhirnya pada 2024, tepatnya di usia 24 tahun batas maksimal peserta ia kembali mendaftar.
“Waktu itu sempat kehilangan harapan karena biasanya pengumuman akhir tahun, padahal saya sudah masuk usia 25 tahun bulan Agustus. Ternyata pengumuman kali ini dimajukan ke bulan Mei, jadi saya langsung daftar,” katanya.
Kesungguhannya membawa kontribusi nyata yang ia buktikan sejak masa perkuliahan. Dalam tugas akhirnya, Dinda merancang Tourist Information Center (TIC) yang terintegrasi dengan terminal wisata antarkecamatan di Wonogiri. Desain tersebut tidak hanya menjadi syarat akademik tetapi juga menjadi proyek kontribusi yang ia presentasikan saat karantina Duta Wisata.
“Wonogiri punya banyak potensi wisata, tapi konektivitasnya kurang. Saya ingin desain ini bisa menjadi solusi aksesibilitas wisatawan,” katanya.
Ia menceritakan proses menuju gelar juara tidak mudah. Dinda mengikuti tahapan seleksi selama hampir satu bulan, termasuk masa karantina intensif selama seminggu. Di saat final, ia tampil unik dengan bakat berbicara menggunakan boneka tangan, menyampaikan pesan penting, jangan takut gagal.
“Banyak peserta dari SMA dan dari segi usia saya yang paling senior. Tapi saya memilih tampil jujur dan apa adanya, menunjukkan sisi personal saya, termasuk saat deep interview yang sangat emosional,” kata pria yang kini bekerja sebagai arsitek di perusahaan swasta di Klaten ini.
Kemenangan ini juga menjadikan Dinda sebagai representasi UMS di ranah non-akademik. Ia mengaku banyak membawa nilai-nilai yang didapat selama kuliah, terutama dalam hal sopan santun, adab kepada yang lebih tua, dan sikap santun yang menurutnya menjadi poin penting selama karantina.
“Itu semua berbekas dan saya bawa dalam keseharian, termasuk saat berinteraksi dengan sesama finalis dan panitia,” katanya.
Sebagai Duta Wisata, Dinda kini memiliki tanggung jawab mempromosikan pariwisata Wonogiri, termasuk membuat konten di media sosial, merancang program bersama finalis lainnya, dan mewakili Wonogiri dalam berbagai event kepariwisataan tingkat regional.
Ia bersyukur atas dukungan dari lingkungan kerja yang memungkinkannya menjalani tanggung jawab ini meski berdomisili di Klaten. Dinda berharap ke depan wisata Wonogiri makin dikenal dan diminati wisatawan, terutama destinasi yang masih sulit diakses. Ia juga ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak takut mencoba.
“Kalau tidak dicoba, kita tidak pernah tahu rezeki akan datang dari mana,” katanya.

