Sebagai Kota Ukir, Jepara didorong perbanyak tanam Jati

id legislator,jepara, jangan bergantung, tanaman jati,dari luar daerah

Sebagai Kota Ukir, Jepara didorong perbanyak tanam Jati

Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto menyerahkan bibit tanaman jati kepada kelompok tani disaksikan Deputi Kabid Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan di lapangan olahraga Desa Jugo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Sabtu (15/12). (FOTO: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Jepara (Antaranews Jateng) - Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sebagai kota ukir didorong untuk memperbanyak penanaman tanaman pohon jati agar pengrajin mebel ukir tidak terlalu bergantung bahan baku kayu dari luar daerah, kata Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto.
   
"Lahirnya keahlian di bidang mebel dan ukir tentunya berlangsung secara alamiah karena melimpahnya bahan baku untuk membuat mebel dan ukir, berupa tanaman jati," ujar Daryatmo Mardiyanto yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) RUU Sistem Nasional ilmu pengetahuan dan teknologi (Sisnas-Iptek) di sela-sela menghadiri Diseminasi Teknologi Perbanyakan Tanaman Jati Secara Ex Vitro di Desa Jugo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Sabtu.
     
Akan tetapi, lanjut politisi dari PDI Perjuangan, yang terjadi sekarang justru regenerasi bibit tanaman jati di Kabupaten Jepara tergolong tertinggal, dibandingkan dengan kebutuhan kayu jati untuk membuat produk mebel dan ukir, sehingga bahan baku kayu jati berasal dari luar Kabupaten Jepara.
     
Ia menganggap hal demikian merupakan sesuatu yang sangat serius untuk pemerintah setempat maupun Pemerintah Pusat.
     
"Permasalahan tersebut seharusnya menjadi perhatian karena saat ini bahan baku kayu yang digunakan untuk produk mebel dan ukir mulai bergeser dari kayu jati ke kayu lainnya," ujar Daryatmo dari Dapil II Jateng (Jepara, Demak, dan Kudus).
     
Kehadiran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), diharapkan bisa membantu mempercepat proses regenerasi bibit tanaman jati di Kabupaten Jepara, khususnya di Desa Jugo dan sekitarnya.
     
Masyarakat di Desa Jugo juga menerima bantuan bibit tanaman jati unggulan dari BPPT sebanyak 2.000 bibit jati solomon, sedangkan 500 bibit jati diberikan kepada masyarakat di Desa Sumosari, Kecamatan Batealit.
     
Dalam rangka mendorong masyarakat memperbanyak penanaman bibit tanaman jati, BPPT juga memberikan pelatihan tata cara memperbanyak bibit tanaman jati dengan kualitas serupa dengan indukannya.
     
Deputi Kepala Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan mengungkapkan kehadiran BPPT di Desa Jugo ini berkat kerja sama BPPT dengan Komisi VII DPR RI.
     
Ia berharap bibit tanaman jati yang ditanam nantinya tidak sekadar ditanam selesai, melainkan ada upaya perawatan sehingga nantinya benar-benar tumbuh dengan baik.
     
Selain memberikan bantuan bibit tanaman jati, BPPT juga memberikan pelatihan cara memperbanyak bibit tanaman jati serta memberikan bantuan formula vitamin untuk bibit tanaman jati tersebut.
     
BPPT juga ingin mentransfer ilmu tersebut kepada masyarakat sehingga cita-cita Jepara memiliki pasokan bahan baku jati yang cukup bisa tercapai.
     
Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo menambahkan bibit tanaman jati solomon tersebut memiliki keunggulan untuk usia tanam jauh lebih cepat dibandingkan jati jenis lainnya, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat mebel dan ukir. 
   
Akan tetapi, lanjut dia, kehadirannya dalam rangka memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang teknik pembibitan yang mudah diaplikasikan dan cepat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak. 
     
Penjabat Kepala Desa Jugo Slamet menyampaikan terima kasihnya kepada BPPT dan Anggota DPR RI Daryatmo Mardiyanto yang bersedia hadir ke Jugo untuk melatih warganya tentang teknik pembibitan yang cepat dan ekonomis. Selain itu, kata dia, warga juga mendapatkan bantuan bibit tanaman jati solomon sebanyak 2.000 bibit.
   
 "Jika memungkinkan, warga juga minta bantuan bibit lain, sepeti bibit tanaman avokad, jambu mete, dan pete," ujarnya. 
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar