Ketua Komite Museum Radya Pustaka Surakarta, Purnomo Subagyo, di Solo, Kamis, mengatakan Museum Radya Pustaka yang dibangun pada 1890 oleh Kanjeng Adipati Sosroningrat IV itu, memang masih menjadi tujuan wisata pendidikan bagi sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi.
Bahkan, wisatawan umum baik lokal maupun asing yang mengunjungi museum yang berdiri pada zaman pemerintahan Pakoe Boewono IX dan Pakoe Boewono X itu, juga kebanyakan untuk keperluan pendidikan.
Purnomo mengatakan Museum Radya Pustaka telah menyimpan buku-buku dan dokumen penting tentang sejarah budaya dan seni. Buku-buku itu, ada sebanyak 377 buah sebagian besar ditulis dalam bahasa jawa dan juga bahasa Belanda.
"Museum juga banyak menyimpan koleksi lainnya, yakni tosan aji atau sejumlah pusaka peninggalan kraton. Jumlahnya sebanyak 363 pusaka antara lain, tombak dan keris," katanya.
Selain itu, lanjut dia, juga mengoleksi sebanyak 162 jenis gamelan, 460 jenis wayang, 140 arca batu dan 345 arca perunggu.
Bahkan, museum kini juga menambah koleksinya yang baru yang dapat dijadikan wisata edukasi para pelajar yakni delapan jenis corak dam model pakaian adat jawa untuk pria yang digunakan masyarakat sehari-hari dari Kraton Kasunanan dan Istana Mangkunegaran Surakarta.
"Pakaian jawa ini, memang sangat menarik, dan ke depan kami juga akan menambah koleksi pakaian adat untuk wanita jawa," katanya.
Purnomo menjelaskan, pihaknya sekarang sedang mengeluarkan buku naskah sejarah dengan diberikan narasi tentang isi dan maknanya. Namun, buku atau naskah bersejarah yang ditulis dengan tulisan tangan itu, jenis Islami.
"Naskah Islami itu antara lain 'Surat Joesoef' di tulis di Surakarta pada 1729 dan 'Cariyos Dajjal' di tulis di Surakarta 1845," katanya.
Menurut dia, dengan bertambahnya koleksi-koleksi museum tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan para wisatawan yang berkunjung tempat bersejarah itu.
Selain itu, pihaknya juga sering menggelar sejumlah event di museum antara lain acara jamasan 21 pusaka koleksinya yang digelar di Radya Pustaka Solo, pada Rabu (28/10).
"Kegiatan ini, juga menjadi daya tarik pengunjung yang dapat menambah pendapatan museum," katanya.
Dia mengatakan wisatawan yang mengunjungi museum ini, cukup mengeluarkan uang retribusi sebesar Rp5.000 per orang untuk umum, sedangkan asing Rp10 ribu per orang. Namun, rombongan pelajar dapat harga khusus.
"Kami mencatat jumlah pengunjung di Museum Radya Pustaka rata-rata 15 orang per hari. Namun, jika ada rombongan siswa bisa mencapai 200 hingga 300 anak," katanya.

