"Ya, musiman memang. Berjualan kembang api ini laris saat bulan puasa dan Lebaran saja. Setelah itu, ya, tidak ada yang beli," kata Raharjo (48) pedagang kembang api di Pasar Peterongan Semarang, Rabu.
Pria yang sehari-hari berjualan kaset VCD di Pasar Peterongan Semarang itu memilih beralih sementara menjual kembang api selama Ramadhan karena keuntungan yang didapatkan dari kembang api cukup menjanjikan.
Ia mengaku bahwa dalam sehari bisa mendapatkan omzet setidaknya Rp350 ribu dari berjualan beraneka kembang api, sementara pendapatannya dari berjualan kaset VCD setiap hari tidak sampai sebanyak itu.
"Kalau dari (berjualan, red.) kaset saya paling-paling dapat Rp100 ribu--Rp140 ribu per hari. Oleh karena itu, saya pilih menjual kembang api selama Ramadhan. Meski musiman, berjualan kembang api lebih menguntungkan," katanya.
Persediaan kembang api tidak mudah kedaluwarsa dan cenderung tahan lama, kata dia, berbeda dengan kaset-kaset VCD yang sudah tidak akan ramai dicari jika artis dan penyanyinya sudah tidak tenar lagi.
Pedagang yang mengaku sudah "bermain" kembang api sejak 2000 itu mengatakan bahwa kembang api yang paling laris dan dicari pembeli adalah model gesek yang dijualnya dengan harga Rp2.500,00 setiap bungkusnya.
"Kembang api gesek bisa laku 10--15 bungkus per harinya. Kalau untuk kembang api jenis lainnya lainnya, seperti model air mancur biasanya banyak dicari saat menjelang Lebaran," kata Raharjo.
Senada dengan itu, Rohmat (39) pedagang kembang api di Pasar Peterongan mengaku optimistis meraup untung besar dari berjualan kembang api sebab memasuki Ramadhan sudah banyak pembeli, terutama anak-anak.
"Sehari-harinya, saya berjualan mainan anak-anak. Namun, karena ini Ramadhan dan sedang musim-musimnya kembang api saya ambil kesempatan. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, lumayan untungnya," katanya.

