Batang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, meluncurkan program BUMDes Asuh sebagai strategi pemberdayaan badan usaha milik desa (BUMDes) untuk mempercepat penurunan angka stunting sekaligus menguatkan kemandirian ekonomi desa.
Bupati Batang Faiz Kurniawan di Batang, Senin, mengatakan bahwa pentingnya mengurangi ketergantungan desa pada dana transfer dari Pemerintah pusat.
"BUMDes harus bisa menjadi mesin pencetak uang desa, misal melalui sektor ketahanan pangan seperti peternakan ayam telur atau sapi perah," katanya.
Menurut dia, kriteria desa mandiri adalah yang mampu menghasilkan minimal 40 persen pendapatan asli desa dari total dana desa yang diterima oleh pemerintah desa.
"Misalnya, dana desa Rp1 miliar maka pendapatan asli desa minimal Rp400 juta. Tren pengetatan fiskal nasional yang berpotensi mempengaruhi alokasi dana transfer ke daerah dan desa sehingga penguatan BUMDes dan Koperasi Merah Putih sebagai sumber pendapatan alternatif dinilai krusial," katanya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Batang Rusmanto menjelaskan "BUMDes Asuh" merupakan akronim dari Badan Usaha Milik Desa Aktif Selamatkan Usia Harapan sehingga dalam program ini ditargetkan intervensi balita pada 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting.
Program "BUMDes Asuh" menandai langkah strategis Kabupaten Batang untuk membangun masa depan yang lebih sehat dan berdaya yang dimulai dari desa, melalui sinergi pemda, BUMDes, koperasi, dan masyarakat.
"BUMDes tak hanya kejar profit tetapi juga jadi motor penggerak sosial. Intervensi bisa berupa pembagian telur omega 3, susu, daging, atau perbaikan sanitasi lewat kerja sama dengan PAM desa," katanya.
Baca juga: Batang Jadi Tempat Festival BUMDes Tingkat Nasional

