Paus biru usia 70 tahun terdampar dan mati di pesisir Kupang

id Pemda, NTT, Paus terdampar, Kota Kupang

Paus biru usia 70 tahun terdampar dan mati  di pesisir Kupang

Seekor paus biru terdampar dan mati di pesisir pantai Kupang, Selasa (21/7). ANTARA/HO

Kupang (ANTARA) - Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang melaporkan bahwa seekor paus biru terdampar dan mati di pesisir Pantai Nunhila, Kota Kupang, Ibu Kota Nusa Tenggara Timur.

"Paus itu diperkirakan usianya mencapai 70 tahunan, dan matinya juga belum diketahui karena memang tak ditemukan adanya luka di tubuh paus itu," kata Kepala BKKPN Kupang Ikram Sangadji kepada wartawan di Kupang, Selasa malam.

Pantauan ANTARA, terdampar dan matinya ikan paus di pesisir pantai Nunhila, diperkirakan pada Selasa sekitar pukul 17.00 Wita itu menjadi tontonan warga dan justru mengakibatkan jalanan macet sepanjang lima kilometer akibat banyak warga yang berhenti di pinggir jalan.

Warga tak hanya menyaksikan paus tersebut dari pinggir jalan, beberapa warga juga justru sampai turun ke pantai untuk menyaksikan secara dekat dan mengabadikan momen itu, karena memang air laut pada saat itu sedang pasang surut.

Ia mengatakan bahwa paus biru yang terdampar dan mati itu merupakan paus langka dan dilindungi oleh undang-undang sehingga tak boleh ada yang memotong untuk mengambil dagingnya.

Pihaknya sudah melakukan pengukuran dan dari hasil pengukuran itu diketahui panjang paus biru tersebut mencapai 20 meter sementara lingkar perutnya mencapai 12 meter.

Ikram menambahkan bahwa saat ini paus tersebut masih berada di pesisir laut dan sulit untuk dievakuasi karena laut dalam kondisi surut.

"Malam ini tak bisa evakuasi, jadi besok baru dievakuasi menunggu air laut pasang. Jadi kemungkinan sekitar pukul 10.00 Wita akan dievakuasi ke pesisir," ujar dia.

Tim gabungan, kata dia, juga akan membelah perut dari paus biru tersebut untuk mengecek apakah ada sampah di dalam perutnya atau tidak.

Baca juga: Nelayan Cilacap evakuasi paus terdampar di sungai
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar