Berburu kuliner tradisional di Pasar Papringan

id berburu kuliner tradisional,di pasar papringan

Berburu kuliner tradisional di Pasar Papringan

Pedagang soto ayam kampung di Pasar Papringan, Temanggung, melayani pembeli. (ANTARA/Heru Suyitno)

Temanggung (ANTARA) - Puluhan mobil dengan nomor polisi dari luar Kabupaten Temanggung terlihat berjajar diparkir di sebuah ladang yang mengering di pinggir Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Para penumpang mobil pun turun menapaki jalan berbatu menuju keramaian di bawah rimbun pepohonan bambu di tengah dusun. Di situ digelar berbagai jajanan tradisional oleh warga Dusun Ngadiprono menggunakan meja pendek terbuat dari bambu.

Di Pasar Papringan ini para penjual makanan tradisional yang sebagain besar kaum perempuan mengenakan seragam kebaya bermotif bunga. Mereka sibuk melayani para pengunjung yang ingin menikmati kuliner tradisional.

Terdapat puluhan jenis makanan tradisional yang disajikan para penjual, antara lain sego megono, sego jagung, sego abang, gemblong manis, putu bumbung, srundeng uceng, lontong mangut, kemplang ketan, ndas borok, gatot, bandos gurih, jenang koro, mendut, nagasari, wedang pring, dawet, dan grubi telo.

Transaksi jual beli di Pasar Papringan ini dilakukan dengan cara unik, yakni pengunjung yang mau membeli barang, harus menukarkan uangnya dengan koin pring, satu pring senilai Rp2.000.

Harga makanan yang dijual pun sangat terjangkau para pengunjung, berkisar satu hingga empat pring.

Di pasar yang buka setiap hari Minggu Wage dan Minggu Pon ini, bukan hanya menjual kuliner, tetapi juga hasil pertanian dan kerajinan tradisional.

Tidak kalah menarik yang dilakukan para pedagang di tempat itu, untuk dicontoh para pengunjung, yakni dalam menyajikan makanan mereka tidak menggunakan bahan dari plastik sehingga ramah lingkungan.

Para pedagang menggelar makanan yang dijualnya dengan alas daun pisang. Begitu pula saat melayani pembeli, mereka membungkusnya dengan daun pisang atau menggunakan piring anyaman lidi dengan alas daun pisang.

Seorang pedagang lontong mangut dan srundeng uceng, Evi, menuturkan sudah menjadi aturan bagi pedagang yang berjualan di tempat itu, tidak boleh membungkus atau menyajikan makanan dengan bahan plastik, akan tetapi cukup menggunakan daun pisang atau bahan alami lainnya.

Ia mengaku setiap kali berjualan di Pasar Papringan ini, rata-rata mendapat 400 hingga 500 keping pring atau senilai Rp800.000 hingga Rp1.000.000, tergantung jumlah pengunjung yang datang.

Ia menyebutkan dari hasil penjualan tersebut dipotong untuk kas dan pengelolaan pasar 15 persen.

"Meskipun setiap buka pada hari pasaran Minggu Wage atau Minggu Pon hasilnya tidak sama, tergantung ramainya pengunjung, alhamdulillah hasilnya lumayan bisa untuk menambah penghasilan keluarga," katanya.

Pedagang sego abang, Nahidah, mengaku setiap kali berjualan pada hari pasaran, pukul 06.00-12.00 WIB, dirinya bisa mendapat sekitar 500 keping pring, namun juga pernah mendapatkan sampai 800 keping pring saat pengunjung ramai.

Ibu rumah tangga ini mengaku sangat bersyukur dengan dibukanya Pasar Papringan itu karena bisa berjualan. Meskipun tidak setiap hari, hasilnya bisa untuk membantu memberi uang saku anak.

"Di luar hari pasaran berjualan di pasar ini, saya setiap hari kerja di ladang yang saat ini ditanami tembakau," katanya.

Keberadaan Pasar Papringan ini juga memberikan rezeki bagi ibu rumah tangga lainnya di Dusun Ngadiprono yang tidak memiliki modal atau keahlian untuk berdagang. Mereka bekerja sebagai pencuci piring atau gelas.

Di pasar tradisional yang rindang dengan rumpun bambu ini juga ada penjual tas berbentuk keranjang kecil untuk membawa barang bawaan berupa jajanan tradisional tersebut. Pengunjung cukup menyediakan dua hingga tiga keping pring untuk mendapatkan tas keranjang tersebut.

Penjual keranjang, Istikomah, menyampaikan setiap hari pasaran bisa menjual 500 hingga 700 tas keranjang.

"Sebelum ada Pasar Papringan ini kami membuat keranjang tembakau, namun sejak adanya pasar ini kami membuat tas keranjang yang hasilnya lumayan karena tidak mengenal musim, kalau membuat keranjang tembakau hanya saat musim tembakau saja," katanya

Seorang pencuci piring yang setiap hari bekerja sebagai buruh tani, Lasminah, mengaku ikut membantu mencuci piring, mangkok, atau gelas setiap hari pasaran dengan mendapat upah antara Rp40.000 hingga Rp50.000.

"Kami ada tujuh orang yang ikut membantu mencuci di sini, upahnya tergantung jumlah pengunjung, saat pengunjung ramai kami pernah mendapat upah Rp100.000," katanya.

Seorang pengunjung warga Semarang Suparman yang datang bersama istrinya menuturkan dirinya merasa senang bisa menikmati makanan tempo dulu di Pasar Papringan.

"Suasananya nyaman karena teduh di bawah rumpun bambu, apalagi harga makanannya relatif murah dan enak. Selain itu, pasar ini unik dan khas," katanya.

Ketua Komunitas Air yang juga pengelola Pasar Papringan, Imam Abdul Rofiq, menuturkan ada 131 pedagang di Pasar Papringan, meliputi pedagang makanan, kerajinan, dan hasil pertanian.

Namun, seluruh warga yang terlibat setiap pasaran mencapai sekitar 400 orang, karena banyak pedagang yang membawa pekerja untuk membantu dan juga melibatkan banyak petugas parkir.

Menurut dia. konsep Pasar Papringan ini untuk memberdayakan masyarakat lokal, karena sejak mulai perencanaan, pembangunan, hingga pelaksanaannya melibatkan masyarakat sekitar.

"Sekitar 90 persen warga Dusun Ngadiprono terlibat dalam Pasar Papringan ini. Selain itu juga melibatkan tetangga dusun untuk petugas parkir, membuat kerajinan, dan lainnya," katanya.

Ia menyampaikan khusus untuk kuliner dari warga Dusun Ngadiprono, tetapi dusun-dusun lain juga menyuplai bahan baku, seperti hasil bumi dan daun pisang untuk bungkus makanan.

Ia menyebutkan omzet penjualan di Pasar Papringan setiap beroperasi sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta.

Pasar Papringan mulai beroperasi pada 14 Mei 2017. Kini beberapa rumah di sekitar pasar itu sudah ada "homestay" bagi pengunjung dari luar daerah yang ingin menikmati suasana desa pada malam hari.

Imam mengatakan ada sembilan rumah yang digunakan untuk "homestay" dengan kapasitas 40 orang dan tarif Rp200.000 per orang dengan mendapatkan makan malam dan sarapan pagi.

"'Homestay' tersebut selalu penuh menjelang hari pasaran, terutama dari pengunjung luar kota yang ingin menikmati suasana kota dan tidak ingin ketinggalan momentum Pasar Papringan yang buku enam pukul 06.00-12.00 WIB," katanya.

Dia menyebut pengunjung Pasar Papringan 60 persen dari luar kota dan 40 persen orang Temanggung.

Diharapkan, Pasar Papringan menjadi lokomotif pengembangan desa, baik kehidupan sehari-hari masyarakat, nilai-nilai kebudayaan, konservasi lingkungan, bebas sampah plastik, dan kearifan lokal lain yang bisa diterapkan masyarakat itu bisa menginspirasi para pengunjung untuk diterapkan di tempat tinggalnya.

"Harapan kami Pasar Papringan menjadi pusat studi pengembangan desa dari berbagai sektor, pertanian, bebas sampah plastik, konservasi lingkungan dan lainnya," katanya.

Bupati Temanggung M. Al Khadziq menyebut Pasar Papringan ini khas Temanggung.

"Merek ini punya Temanggung yang sekarang banyak ditiru orang di mana-mana," ucapnya.

Pasar Papringan menjual berbagai makanan tradisional yang disajikan secara unik di kebun bambu di tengah kampung.

Khadziq menilai bagus juga mengispirasi orang untuk meniru Pasar Papringan. Barbagai hal yang bersifat pemberdayaan masyarakat harus ditularkan ke desa-desa lainnya.

"Sebenarnya saya ingin mengambil pelajaran dari Pasar Papringan ini dengan mengembangkan di desa-desa lain di Temanggung," katanya.

Pengembangan di desa lain tidak harus sama dengan Pasar Papringan, Mungkin skemanya bisa sama, akan tetapi dengan konten yang berbeda. 

Baca juga: Kementerian Desa: Pasar Papringan bisa dicontoh daerah lain

Baca juga: Pegiat revitalisasi desa bakal bertemu di Pasar Papringan

Baca juga: Pasar Papringan Gerakkan Potensi Ekonomi Masyarakat


 
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar