Air berkah Waisak diambil di Umbul Jumprit Temanggung

id air waisak umbul jumprit

Air berkah Waisak diambil di Umbul Jumprit Temanggung

Sejumlah biksu mengambil air berkah di Umbul Jumprit Temanggung (Heru Suyitno)

Temanggung (ANTARA) - Umat Buddha mengambil air berkah Waisak di Umbul Jumprit di Desa Tegalrejo, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Kamis.

Pengambilan air diawali dengan puja bakti oleh masing-masing majelis agama Buddha di altar yang tersedia di kawasan Umbul Jumprit.

Sejumlah biksu menyalakan lilin lima warna di altar tersebut, yakni warna biru melambangkan bakti, warna kuning (bijaksana), merah (cinta kasih), putih (kesucian), dan warna oranye lambang semangat.

Wakil Ketua Panitia Air Berkah perayaan Waisak 2563 BE/2019 Martinus Nata mengatakan pada hari ini umat Buddha melakukan puja bakti air berkah di Umbul Jumprit dan dilanjutkan untuk besok puja api.

"Kemudian air dan api kita semayamkan di Candi Mendut yang akan digunakan untuk merayakan detik-detik Waisak pada 19 Mei 2019 di Candi Borobudur," tambahnya.

Ia menjelaskan untuk mengawali prosesi pengambilan air berkah, telah dilakukan pembersihan areal Umbul Jumprit dan pada 14 Mei 2019 dilakukan pengisian air berkah sebanyak 12 ribu botol.

"Puncaknya untuk air berkah ini kita melakukan puja bakti dari 11 majelis agama Buddha Indonesia yang nanti air berkahnya akan kami bawa ke Candi Mendut untuk disemayamkan di sana," terangnya.

Biksu Diana Duta mengatakan air di agama Buddha mempunyai filosofi yang sangat tinggi, di mana air memberikan kehidupan ke semua makhluk hidup tanpa terkecuali.

"Kita sebagai manusia harus mempunyai sifat mirip dengan air yaitu memberikan kehidupan, artinya di dalam diri kita ada sebuah cinta kasih yang tidak terbatas dan cinta kasih inilah yang membuat hati kita tenang, tenteram, damai, dan membawa kebahagiaan bagi orang lain bahkan kepada semua makhluk," jelasnya.

Ia menambahkan air mempunyai sifat rendah hati, dimana air ketika memberikan kehidupan dia tidak memilih kepada siapa pun dan air walaupun dihina, artinya ketika orang sudah menggunakan air dia buang di selokan, dikotori, dia tidak pernah marah, dia tetap memberikan sumbangsih kepada kehidupan.

"Begitu juga dengan kita sebagai manusia di dalam diri kita ada benih-benih kebaikan, cinta kasih yang sangat dalam, yang tidak terbatas, bukan hanya cinta pada diri kita, bukan hanya cinta pada keluarga, tetapi cinta kepada semua manusia dan kepada semua makhluk," tambahnya.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar