
Limbah domestik ancam Teluk Jakarta, kualitas air kian memburuk

Tanpa langkah terintegrasi, kerusakan akan semakin parah
Purwokerto (ANTARA) - Perairan Teluk Jakarta terus menghadapi tekanan limbah domestik yang meningkat, memicu penurunan kualitas air dan kerusakan ekosistem laut yang berdampak langsung pada keberlanjutan biota dan mata pencaharian nelayan setempat.
Ketua tim mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ismira Islah Syahwinda mengatakan Teluk Jakarta kini menanggung beban limbah organik dan anorganik yang terbawa dari 13 sungai, dengan kontribusi pencemaran mencapai sekitar 75 persen.
“Kondisi ini tidak hanya merusak kualitas air, tetapi juga memicu kematian ikan secara berulang selama puluhan tahun,” ujarnya.
Anggota tim mahasiswa, Meika Nur Faisha menjelaskan fenomena kematian ikan kerap terjadi pada awal musim hujan saat debit sungai meningkat.
Nutrisi berlebih seperti fosfat dan nitrat memicu ledakan fitoplankton atau algal bloom yang menguras oksigen terlarut di perairan.
“Ikan-ikan ekonomis seperti kembung, baronang, hingga tembang paling terdampak karena sensitif terhadap penurunan oksigen,” katanya.
Anggota lainnya, Felina Nurhalisa menambahkan bahwa upwelling sedimen beracun turut memperburuk kondisi ekosistem. Sejak 2010, indeks pencemaran di kawasan muara Teluk Jakarta berada pada tingkat sedang hingga berat.
“Logam berat seperti merkuri dan timbal juga telah terdeteksi menumpuk pada tubuh ikan dan kerang,” katanya..
Dampaknya tidak hanya ekologis, tetapi juga ekonomi. Nelayan dan pembudidaya kerang hijau mengalami penurunan hasil tangkapan yang signifikan.
Studi terbaru memperkirakan potensi kerugian mencapai ratusan miliar rupiah per tahun akibat turunnya produksi ikan demersal dan pelagis kecil, serta terkontaminasinya kerang hijau yang menjadi sumber penghasilan masyarakat pesisir.
Para peneliti menilai mitigasi segera menjadi keharusan. Rekomendasi mencakup pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di 13 sungai, normalisasi sungai, hingga koordinasi lebih kuat antarinstansi seperti Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Tanpa langkah terintegrasi, kerusakan akan semakin parah dan mengancam keberlanjutan nelayan serta sektor wisata seperti kawasan Ancol,” katanya.
Kajian ilmiah juga menyebut penanganan pencemaran di Teluk Jakarta membutuhkan intervensi jangka panjang, terutama mengingat beban limbah rumah tangga yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas urban.
Upaya edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah domestik menjadi bagian penting dalam mengurangi sumber pencemaran dari hulu.
Tim peneliti menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan Teluk Jakarta sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kolaborasi multi-sektor.
Pendekatan ekologis, sosial, dan ekonomi harus berjalan seiring demi mengembalikan fungsi ekologis teluk sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Sebagai referensi tulisan ini, hasil penelitian Samusamu, A.S., Rachmawati, P.F., Puspasari, R., Hartati, S.T. 2019. Mitigasi dan Penanganan Bencana Lingkungan di Teluk Jakarta. Jurnal Riset Jakarta, 12(2): 77-88,” kata Ismira.
Baca juga: Produktivitas perairan ekstrem Kalimantan ungkap keunikan ekosistem tropis
Baca juga: Unsoed gelar Eksibisi Sinar dorong inovasi ketahanan pangan
Baca juga: Unsoed perkenalkan konsep halal kepada anak usia dini lewat sains
Pewarta: KSM
Editor:
Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
