Semarang, ANTARA JATENG - Para siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Jabungan, Semarang, Jawa Tengah, kini tak lagi harus berbasah menyeberangi sungai untuk menuju sekolah karena sudah dibangun jembatan penyeberangan.
"Jembatan di Jabungan ini merupakan akses yang sangat penting, khususnya untuk anak-anak berangkat sekolah," kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meresmikan Jembatan Jabungan, Semarang, Senin.
Jembatan penghubung dengan konstruksi besi sepanjang 81 meter membelah sungai dengan biaya pembangunan mencapai Rp245 juta sudah bisa digunakan warga Jabungan, terutama anak-anak untuk berangkat ke sekolah.
Turut hadir dalam peresmian itu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang sempat melihat kondisi siswa SD Jabungan yang harus menyeberangi sungai saat berangkat sekolah ketika belum ada jembatan.
Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi menyebutkan pembangunan jembatan itu dilakukan secara "keroyokan" banyak pihak, yakni Pemerintah Kota Semarang dibantu pendanaan CSR (corporate social responsibility) perusahaan.
"Ini biaya keroyokan. Artinya, Pemkot Semarang hanya mengeluarkan dana dari APBD murni 2017 sebesar Rp197 juta, kemudian ada bantuan pula dari CSR Lippo Group sebesar Rp50 juta," kata politikus PDI Perjuangan itu.
Ia prihatin selama ini siswa di wilayah Jabungan harus menyeberang melewati derasnya aliran sungai selebar 30 meter itu saat berangkat sekolah, apalagi ketika musim hujan yang membuat aliran sungai sangat deras.
"Ini penantian cukup lama memang bagi warga, hampir 25 tahun. Kami mendengar awal tahun lalu keluhan warga, kemudian coba komunikasikan secara intensif dan ternyata dapat bantuan CSR dari perusahaan dan warga," katanya.
Hendi berharap Jembatan Jabungan yang baru saja diresmikan itu dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga dan harus dirawat dengan baik sebagai fasilitas umum yang sangat vital kegunaannya bagi warga sekitar.
"Meskipun jembatannya kecil, namun sangat `urgent` dan menjadi prioritas penghubung wilayah Jabungan di bagian utara dan selatan. Semoga bermanfaat bagi warga, terutama yang putra-putrinya bersekolah," katanya.
Saat ini, hanya ada satu sekolah di kawasan itu, yakni SDN Jabungan yang menjadi tempat bersekolah anak-anak warga sekitar, tetapi aksesnya harus memutar jauh atau lebih cepat dengan menyeberangi sungai langsung.
Sementara itu, Chelsea Adista (8), siswi kelas II SDN Jabungan terlihat sumringah mengetahui telah diresmikannya jembatan sehingga tak lagi harus khawatir menyeberangi sungai ketika berangkat sekolah.
"Ya, senang. Bisa berangkat sekolah lebih dekat dan cepat. Dulu kan harus nyeberang sungai, sepatu jadi basah. Kalau terpaksa, kadang `nyeker` (tidak beralas kaki) atau pakai sandal ke sekolah," katanya.

