Magelang, ANTARA JATENG - Pemerintah Kabupaten Kebumen meluncurkan Program Kebumen Peduli Difabel/Disabilitas untuk meningkatkan pelayanan kepada penyandang difabel/disabilitas di kawasan selatan Provinsi Jawa Tengah itu.
"Setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri, memiliki kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup," ujar Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Pemkab Kebumen Mahmud Fauzi sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Antara di Magelang, Rabu.
Peluncuran program itu berlangsung di Pendopo Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, Selasa (11/4), antara lain dihadiri Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana H.A. Dwi Budi Satrio, camat, masyarakat peduli disabilitas, dan 40 penyandang disabilitas di daerah setempat.
Pada kesempatan itu, pemkab secara simbolis menyerahkan bantuan, antara lain paket sembako, kursi roda, alat bantu dengar, bibit palawija, serta uang tunai kepada penyadang disabilitas.
Berdasarkan data pada 2015, di Kabupaten Kebumen terdapat 11.119 penyandang disabilitas, sedangkan jumlah total warga setempat sekitar 1,3 juta jiwa. Pada 2016, tercatat 4.280 orang dengan gangguan jiwa dan 60 orang cacat fisik.
Ia mengaku pemkab setempat dituntut meningkatkan pelayanan kepada kaum difabel. Sejak 2010, pemkab telah mencanangkan daerah setempat bebas pasung dan program sehat jiwa, sedangkan secara khusus di Kecamatan Pejagoan, pelayanan kepada mereka melalui pengiriman penderita gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa di Kota Magelang serta pelayanan kependudukan secara "jemput bola".
"Masing-masing desa memiliki kader kesehatan jiwa. Ini patut diapresiasi," ujarnya.
Mahmud Fauzi mengajak seluruh lapisan masyarakat juga memberikan dukungan, semangat, dan kepercayaan diri kepada penyandang disabilitas agar bisa memperoleh kemajuan dan perkembangan kehidupannya.
Jangkauan pelayanan kepada kaum difabel dan disabilitas terkait dengan kesejahteraan sosial mereka, katanya, harus semakin luas, meningkat, adil dan merata pada masa mendatang.
Ia menjelaskan pelayanan kepada mereka dengan melibatkan kalangan interdisipliner dan lintas sektoral, antara lain berupa kegiatan penyebaran informasi, deteksi dini kecacatan, konsultasi, dan rujukan.
Berbagai kegiatan tersebut, katanya, akan semakin menumbuhkan kembali harga diri dan semangat hidup para penyandang disabilitas sehingga mereka bisa mandiri dan mampu melaksanakan peranan sosialnya secara wajar.

