"Tahun ini merupakan tahun pertama UMK Kudus, khususnya dari Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika menggelar kompetisi mural dengan tema Teknologi Tanpa Batas," kata Koordinator Pelaksana Kompetisi Mural UMK Dana Suryono di Kudus, Minggu.
Pada kesempatan itu dia menjelaskan bahwa Festival Teknik Informatika pada tahun ini merupakan yang kedua.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan serta informasi dari berbagai pihak, kata dia, minat masyarakat, khususnya pelajar terhadap seni lukis dinding relatif cukup berkembang, bahkan ada pula pelajar tingkat SMP yang juga menekuni kesenian tersebut.
Untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda berekspresi lewat mural, kata dia, Fakultas Teknik Informatika UMK mencoba menggelar kompetisi mural dengan hadiah uang dan piagam.
"Meskipun kami bukan dari jurusan kesenian, tidak ada salahnya kami juga mencoba menggugah para seniman untuk terlibat dalam hal kemajuan teknologi," ujarnya.
Guna menggali pengetahuan mereka tentang kemajuan teknologi, kata dia, mereka ditantang untuk menuangkan ide soal kemajuan teknologi era sekarang dalam bentuk lukisan yang unik dan menarik serta mudah dipahami masyarakat.
Peserta kompetisi mural pada tahun pertama, kata dia, diikuti delapan kelompok peserta yang masing-masing kelompok maksimal terdiri atas delapan orang. Adapun pesertanya berasal dari Semarang, Kendal, dan Kudus.
Ia berharap ajang kompetisi tersebut selain mendorong kreativitas generasi muda di bidang seni dan teknologi, juga bisa mengurangi kenakalan remaja.
Aksi Simpatik
Pada hari yang sama, puluhan komunitas grafiti yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah juga menggelar aksi simpatik melukis dinding di tepi Jalan kampung di Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus.
Dinding yang awalnya berwarna kusam dan kurang terawat, kini berubah menjadi warna-warni dengan aneka lukisan dalam bentuk karakter kartun maupun huruf.
Aksi simpatik tersebut, dalam rangka temu kangen para penggemar seni grafiti dari berbagai daerah di Jateng. Mereka di antaranya dari Yogyakarta, Jepara, Solo, Semarang, dan Purwokerto.
"Aksi ini merupakan aksi swadaya para penggemar grafiti karena dalam melukis satu layer dibutuhkan antara empat hingga lima botol cat semprot," ujar panitia lukis tembok Aldi Laksamana.
Menyinggung soal harga setiap botol cat semprot tersebut, dia mengatakan bahwa harganya sebesar Rp17.500,00.
Penggemar seni gratifi tersebut, kata dia, tidak hanya dari kalangan pelajar, tetapi ada pula yang sudah bekerja dan berumah tangga. Anggota paling muda duduk di bangku SMP.
Adanya komunitas penggemar grafiti, diharapkan kenakalan remaja melakukan aksi coret-coret di dinding bisa dikurangi karena mereka memiliki ajang untuk berkreasi.
Objek yang dilukis, kata dia, tetap dinding milik orang. Namun, atas seizin pemiliknya, termasuk dinding di Gang Mangga, Desa Barongan ini juga atas seizin pemiliknya serta warga sekitar.

