Pemkot Semarang sebut ada selisih 1.467 kasus antara pusat dan daerah

id Kepala dinkes semarang,covid

Pemkot Semarang sebut ada selisih 1.467 kasus antara pusat dan daerah

Ilustrasi - Sejumlah robot peraga berbaris saat akan mengikuti wisuda secara daring di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/7/2020). WIsuda ke-159 UNDIP yang diikuti 2.561 lulusan itu menggunakan teknologi robot peraga yang menggantikan kehadiran fisik para wisudawan maupun wisudawati karena sejumlah kebijakan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Aji Styawan/aww.

Setelah kami dapat data dari pusat, kami verifikasi satu per satu
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota Semarang menyebutkan terdapat selisih 1.467 kasus COVID-19 antara data yang tercatat oleh Satgas Penanganan COVID-19, namun tidak ditemukan saat diverifikasi oleh pemerintah daerah setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam di Semarang, Rabu, mengatakan temuan perbedaan data itu didasarkan atas pengecekan yang dilakukan satu per satu dan menyeluruh.

"Setelah kami dapat data dari pusat, kami verifikasi satu per satu," katanya.

Dari data sekitar 2.600 kasus yang tercatat oleh pusat, kata dia, ternyata 1.467 kasus di antaranya tidak di temukan di Semarang.

Baca juga: Cegah COVID-19, RSUP Kariadi gandeng DOKU-MKP terapkan parkir nontunai

Selain itu, terdapat pula data kasus non-aktif yang masih dihitung sebagai kasus aktif di pusat.

"Selain itu juga ada pula data ganda serta data hasil pengecekan di laboratorium yang masih kosong," katanya.

Ia mengharapkan pemerintah pusat mengecek langsung data yang dimilikinya ke pemerintah daerah masing-masing.

Sementara itu, hingga hari ini tercatat 535 pasien yang terkonfirmasi COVID-19 masih menjalani perawatan.

Adapun data pasien positif COVID-19 yang meninggal di Kota Semarang mencapai 670 kasus.*

Baca juga: Pemerintah didesak percepat pembebasan tol Semarang-Demak
Baca juga: Polisi olah TKP kecelakaan beruntun tewaskan dua orang di Tol Solo-Semarang

Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar