Manfaatkan kemarau, petani Desa Datar Banyumas tanam jagung

id kemarau

Manfaatkan kemarau, petani Desa Datar Banyumas tanam jagung

Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Desa Datar, Warsito (wuryanti puspitasari)

Purwokerto (ANTARA) - Sejumlah petani di Desa Datar, Kabupaten Banyumas memanfaatkan musim kemarau dengan menanam jagung mengingat tanaman tersebut potensial dikembangkan di lahan tadah hujan saat musim tanam ketiga.

"Pada musim tanam ketiga atau saat musim kering banyak yang tanam jagung karena tidak memerlukan air yang melimpah," kata Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Warsito di Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Rabu.

Dia menjelaskan sejak bulan Juni 2019 curah hujan di wilayah setempat mulai menurun sehingga memengaruhi ketersediaan air irigasi.

"Air mulai sulit sehingga petani di desa kami tidak berani menanam padi dan lebih memilih menanam jagung," katanya.

Dia menambahkan, ada sekitar 10 hektare lahan tadah hujan di Desa Datar yang ditanami jagung pada musim tanam ketiga ini.

"Jumlahnya ada sekitar 10 hektare dengan waktu mulai tanam yang berbeda-beda atau tidak bersamaan sehingga waktu panen diperkirakan juga akan berbeda-beda," katanya dia seraya memperkirakan, petani desa datar akan panen jagung sekitar dua atau tiga bulan mendatang.

Baca juga: TWC bantu kembangkan budidaya jagung petani Magelang

Sebelumnya, Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Asna Mustofa mengatakan jagung bisa menjadi tanaman alternatif bagi petani saat kemarau atau pada musim tanam ketiga.

"Jagung bisa menjadi salah satu pilihan meskipun curah hujan sudah sangat menurun," katanya.

Asna Mustofa yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unsoed tersebut menjelaskan, pada musim tanam ketiga petani memang sangat disarankan untuk menanam palawija.

"Banyak tanaman yang bisa menjadi alternatif. Biasanya sangat tergantung lokasi dan tergantung ketersediaan air, kalau masih ada air bisa tanam jagung, kalau sama sekali tidak ada air biasanya kacang hijau," katanya.

Kendati demikian, dia kembali mengingatkan agar selama musim kemarau petani harus disiplin dalam mengambil air.

"Petani harus disiplin dalam mengambil air dan penting untuk mengambil pada pintu-pintu yang sudah ditentukan," katanya.

Baca juga: Luas tanam jagung di Purbalingga capai 4.275 hektare
Baca juga: Mahasiswa UMP ciptakan wadah perekonomian alternatif bagi masyarakat

Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar