Kisah dari Borobudur gugah perang lawan TBC

id hari tbc sedunia, candi borobudur

Kisah dari Borobudur gugah perang lawan TBC

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan) menyerahkan cenderamata kepada Dubes AS Joseph R. Donovan Jr. (kiri) pada peluncuran awal peringatan Hari TBC Sedunia 2019 di Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Minggu (10/3). (Foto: Hari Atmoko)

Penemuan kasus sampai saat ini belum menggembirakan, maka kita prioritaskan daerah-daerah dengan populasi yang padat terlebih dahulu
Magelang (ANTARA) - Bagian dari relief Lalitawistara di Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah bertutur tentang penderitaan manusia karena sakit.

Mereka dijumpai Sidharta Gautama dalam perjalanan keluar istana dengan kemegahan dan kehidupan yang serba berkecukupan.

Kisah di panel 57 relief itu diketahui umum menjadi bagian yang menggugah Sidharta melakukan pencarian pemaknaan jalan hidup, mengantarnya menjadi petapa, dan kemudian beroleh pencapaian kesempurnaan tertinggi sebagai Sang Buddha Gautama.

Salah satu di antara 120 panel Lalitawistara di lorong pertama tingkat tiga di bagian barat Candi Borobudur tersebut, tentang seseorang berbadan kurus berposisi duduk.

Tentu saja tidak ada narasi tertulis di panel tersebut, namun beberapa sumber menyebut laki-laki berbadan kurus dalam panel itu menderita suatu penyakit.

Ia dikisahkan sebagai salah satu di antara sejumlah wajah penderitaan manusia yang dijumpai Sidharta.

Seorang pemandu dari Balai Konservasi Borobudur Mura Aristina kepada Antara menyebut sosok penderitaan manusia lainnya dalam Lalitawisatara, yakni orang buta membawa tongkat dipandu anak kecil dan orang terbaring meninggal dunia.

"Dalam berbagai buku budhis, belum pernah saya menemukan penjelasan spesifik sakit apakah orang yang digambarkan di relief tersebut," ucap dia.

Kisah tentang orang sakit dan upaya pengobatan kepada orang sakit juga bisa ditemui di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.

Di panel 57 itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R. Donovan Junior mendapat penjelasan tentang relief Candi Borobudur yang menunjukkan orang menderita karena sakit.

Ia melihat relief di Candi Borobudur itu ketika peluncuran awal peringatan Hari TBC (Tuberkulosis) 2019 di Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Minggu (10/3) sore.

Hadil dalam acara yang juga ditandai dengan pembukaan pameran edukasi TBC "A Story of Hope" itu, antara lain Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan RI Anung Sugihantono dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Turut menyertai Dubes Joseph ketika melihat relief Lalitawistara, antara lain Direktur United States Agency for International Development(USAID) Erin Elizabeth McKee dan Wakil Kepala Balai Konservasi Borobudur Bidang Teknis Yudi Suhartono.

Pemilihan terhadap Candi Borobudur sebagai tempat peluncuran awal peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini, tentunya bukan sekadar untuk beroleh latar belakang kemegahan bangunan fisik peninggalan abad ke-8, masa pemerintahan Kerajaan Syailendra itu.

Namun, pemaknaan atas relief orang sakit di candi dengan tatanan dua juta batu andesit itu, diharapkan menggugah semangat masyarakat global untuk melanjutkan perang melawan penyakit TBC. Hari TBC Sedunia diperingati setiap 24 Maret.

Baik Dubes Joseph maupun Direktur USAID Erin Mckee dalam pidato masing-masing di panggung acara di Taman Lumbini, mengemukakan pentingnya peluncuran peringatan tersebut di situs warisan budaya dunia, Candi Borobudur di antara Kali Elo dan Progo itu.

"Ini situs sejarah dunia yang menginspirasi," kata Erin dengan lembaga yang dipimpinnya itu, telah 20 tahun terakhir menjadi mitra Indonesia dalam penanggulangan TBC. Indonesia diharapkan bebas TBC pada 2030.

Kementerian Kesehatan mencatat data terakhir temuan sekitar 842 ribu kasus TBC dengan prevalensi 142 kasus per 100.000 penduduk di Indonesia

Indonesia masuk urutan ketiga terbesar dunia kasus TBC setelah India dan China. Hingga 2017, data kematian di Indonesia akibat penyakit yang bisa diobati dan disembuhkan itu, mencapai 110.000 jiwa.

Kemenkes melakukan investigasi kontak nasional untuk menemukan pasien TBC dan TBC laten, untuk selanjutnya penderita mendapatkan perawatan secara gratis hingga sembuh.

Tanda-tanda penderita TBC, antara lain batuk dengan mengeluarkan dahak, keringat dingin pada malam hari, dan berat badan turun tanpa penyebab yang jelas.

"Kalau dinyatakan positif oleh dokter, akan ditanya siapa di rumah itu, siapa teman main, siapa yang biasa bergaul dengan saya (pasien, red.). Itulah diupayakan pelacakan TBC," kata Dirjen Anung.

Pelacakan kasus TBC oleh petugas di lapangan, seperti kader kesehatan dan petugas medis puskesmas, diprioritaskan di daerah-daerah padat penduduk, terutama di Pulau Jawa, termasuk di lembaga pemasyarakatan, lingkungan sekolah, dan pondok pesantren.

Sejumlah daerah lain yang menjadi prioritas investigasi kontak dalam penanganan TBC, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimanten Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

"Penemuan kasus sampai saat ini belum menggembirakan, maka kita prioritaskan daerah-daerah dengan populasi yang padat terlebih dahulu, tanpa mengecilkan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa," ucap dia.

Pemerintah AS melalui USAID memberikan dukungan bantuan lebih dari Rp1,8 triliun selama 10 tahun terakhir untuk akselerasi deteksi TBC, guna meningkatkan layanan penanganan TBC di Indonesia.

Program kemitraan itu disebut Dubes Donovan telah memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 700.000 pasien TBC.

Ancaman Global
Tuberkulosis bukan hanya menjadi ancaman gangguan kesehatan dan kematian di Indonesia, akan tetapi ancaman publik global.

Penyakit TBC menjadi 10 besar penyebab kasus kematian di seluruh dunia. Lebih dari 10 juta kasus itu berkembang selama 10 tahun terakhir dan membunuh lebih dari satu juta orang setiap tahun.

"Oleh karena itu, Amerika menanggapi seruan tindakan global untuk melawan epidemi TBC," kata dia.

Di salah satu panel dalam pameran edukasi TBC "A Story of Hope" di Taman Lumbini Candi Borobudur, ia menulis dengan spidol warna hitam, "Proud of fighting TB" (Bangga melawan TBC).

Negeri Paman Sam itu, disebut dia, menjadi pemimpin dalam program pengendalian TBC dan mendukung 50 negara dengan beban TBC yang signifikan, dalam perang melawan penyakit menular itu.

"Kami memiliki visi yang sama dengan komunitas global akan dunia bebas TBC," katanya.

Bagian dari keberhasilan penanganan kasus TBC di Indonesia ditunjukkan dalam peluncuran awal Hari TBC Sedunia di Candi Borobudur, melalui pembacaan puisi oleh Alfiyah (16) dan Varel (8).

Mereka adalah dua anak yang sembuh dari penyakit itu setelah masing-masing sembilan dan enam bulan secara disiplin menjalani pengobatan di layanan kesehatan setempat, didukung peran penting orang tua, lingkungan masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Melalui puisi yang dibacanya di Candi Borobudur itu, mereka menyatakan keluar dari penderitaan akibat tuberkulosis.
 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar