Wonosobo, Antara Jateng - Desa Wulungsari, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memiliki peraturan desa yang mengatur kewajiban kaum wanita di desa setempat mengenakan pembalut ramah lingkungan ketika datang bulan.
"Tujuannya untuk mengurangi sampah pembalut bekas serta menjaga kesehatan kaum perempuan di desa kami, mengingat penggunaan pembalut sintetis disinyalir menjadi faktor penyebab kanker serviks" kata Kepala Desa Wulungsari Agus Martono di Wonoosobo, Selasa.
Ia mengatakan hal tersebut saat menerima kunjungan tim verifikasi data lomba halaman asri teratur dan nyaman (Hatinya) PKK tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Agus Martono mengatakan peraturan itu berawal dari kegelisahan warga ketika harus memilah sampah di bank sampah terpadu menemukan pembalut wanita bekas pakai, akhirnya warga menyepakati terbitnya peraturan desa ini.
Menurut dia terbitnya Perdes tersebut sangat efektif, mengingat saat ini hampir 99 persen kaum perempuan di Wulungsari telah merasakan kenyamanan dengan pembalut ramah lingkungan yang juga dibuat oleh warga Wulungsari.
Ketua PKK Desa Wulungsari, Eka Wastiah Martono mengatakan pembalut itu memang inisiasi kaum perempuan setempat.
"Pencetus idenya Ganti Astuti, yang mencoba menciptakan pembalut berbahan dasar kain anti tembus dan dapat dicuci ulang saat selesai digunakan," katanya.
Menurut dia proses pembuatan pembalut yang mesti dicuci menggunakan sabun mandi dan disterelisasi dengan diseterika sebelum dipakai memang tidak mudah.
Ia menuturkan mulai dari memilih bahan yang dirasakan nyaman dipakai, tidak mudah tembus serta mudah dicuci hingga diseterika dan kemudian dipakai kembali membutuhkan waktu cukup lama.
"Paling tidak tiga kali proses melalui uji coba hingga bisa dipasarkan melalui warung-warung yang ada di sekitar desa Wulungsari," aatanya.
Ia mengatakan bahwa kaum perempuan yang akan mengenakan mudah mendapatkan pembalut ramah lingkungan di warung terdekat dengan harga cukup terjangkau.
"Harga per kemasan mulai dari Rp20 ribu berisi dua pembalut dan Rp40 ribu untuk kemasan berisi 4empat pembalut," katanya.
Inisiatif warga Wulungsari yang kreatif tersebut mendapat sambutan positif dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo, Fairuz Eko Purnomo.
Ia mengakui sangat terkesan dengan kreasi yang dihasilkan serta komitmen mereka menjaga lingkungan sehat di seluruh pelosok desa.
"Saya berharap kondisi positif ini tidak sekadar untuk dilombakan, tetapi bisa terus dipertahankan agar menjadi teladan bagi desa-desa lain di Wonosobo," katanya.
Ketua tim verifikasi Provinsi Jawa Tengah, Ny. Buntarno juga mengakui apa yang dia temui di Wulungsari adalah hal luar biasa.
Selain inisiatif menjaga kesehatan dengan membuat pembalut ramah lingkungan, dia mengaku terkesima dengan cara warga memanfaatkan halaman rumah mereka yang hampir semua diisi dengan beragam tanaman kaya manfaat.

