"Kalau bisa, semua komunitas agama menggelar karnaval-karnaval keagamaan semacam ini," kata Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi di sela pergelaran Karnaval Paskah 2016 di Semarang, Jumat.
Politikus PDI Perjuangan itu, menjelaskan pergelaran karnaval keagamaan semacam itu menunjukkan kreativitas masyarakat, seperti komunitas Kristen dan Katolik dalam memperingati Hari Paskah.
Beberapa waktu lalu, kata dia, karnaval budaya dan ogoh-ogoh juga digelar kembali di Kota Semarang untuk memeringati Hari Nyepi yang bisa diikuti komunitas agama lain, termasuk Islam.
"Mungkin, nanti memperingati Maulud Nabi bisa digelar juga karnaval keagamaan semacam ini, atau memperingati hari-hari besar Islam lainnya. Semua komunitas agama membuka diri," katanya.
Karnaval Paskah Semarang 2016 itu diikuti sekitar 10.000 peserta dari sekolah-sekolah Katolik dan Kristen, baik negeri maupun swasta, serta perguruan tinggi, dan berbagai komunitas.
Mereka menampilkan kostum-kostum yang unik, kemudian puluhan mobil hias juga turut ambil bagian pada karnaval itu, termasuk komunitas sepeda motor roda tiga dari komunitas difabel.
Rute karnaval juga diperpanjang, dari tahun lalu hanya mulai Balai Kota Semarang hingga Lapangan Garnisun, pada tahun ini mulai Balai Kota Semarang sampai Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang.
Wakil Ketua Panitia Karnaval Paskah 2016 Dewi Susilo Budiharjo mengungkapkan peringatan Paskah tahun ini diwujudkan penuh kebersamaan, seperti pembukaan posko kesehatan di enam titik.
"Ini menunjukkan kebersamaan. Bahwa tidak hanya satu agama yang hidup di Semarang, tetapi banyak agama. Bagaimana melayani seluruh masyarakat Kota Semarang," kata perempuan ayu itu.
Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi mengatakan posko pengobatan gratis yang dibuka di enam titik dan tujuh rumah sakit (RS) itu untuk melayani masyarakat Semarang yang membutuhkan.
"Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Masing-masing posko bisa menampung sampai 300 pasien. Ini semua untuk warga Kota Semarang," kata Rukma yang juga Ketua Panitia Karnaval Paskah 2016.

