Lulusan SMKN Jateng langsung kerja dan diangkat jadi pegawai tetap

id smkn jateng,kerja sama,perusahaan,langsung kerja

Lulusan SMKN Jateng langsung kerja dan diangkat jadi pegawai tetap

Siswa mengikuti kelas industri Buma School. Siswa yang telah lulus langsung bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap. (Foto: Ist)

Kami melatih mereka menjadi wirausaha, sehingga akan menekan pengangguran dan menyerap tenaga kerja, setidaknya dari warga di sekitar tempat tinggalnya
Semarang (ANTARA) - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Jawa Tengah Semarang bekerja sama dengan perusahaan salah satunya dengan membuka kelas industri "Buma School", siswa yang telah lulus langsung bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap.

Kepala SMKN Jateng Semarang Yudi Wibowo menjelaskan kerja sama dengan industri tersebut diharapkan dapat mengurangi pengangguran sekaligus meningatkan ketrampilan bagi para guru.

Melalui kelas industri, kurikulum yang diajarkan sehari-hari menyesuaikan kebutuhan industri mulai dari teori hingga praktik sesuai kebutuhan perusahaan. Siswa bisa masuk kelas industri mulai kelas dua.

Pada kelas industri tersebut, SMKN Jateng Semarang bekerja sama dengan PT Bukit Makmur Mandiri Utama atau biasa disebut PT Buma, perusahaan tambang batu bara nasional.

"Untuk bisa masuk kelas Buma, siswa harus mengikuti seleksi seperti yang dilakukan di perusahaan. Mulai dari tes kesehatan, potensi akademik, wawancara, serta kebugaran. Ada 30 anak yang lulus masuk kelas Buma," katanya.

Untuk kebutuhan praktik, PT Buma memberikan bantuan engine crane dan escavator dengan harapan, setelah lulus mereka langsung bekerja tidak lagi sebagai tenaga kontrak, tetapi direktrut sebagai karyawan tetap.

Keuntungan lain dari kelas industri tersebut, tambah Yudi para guru juga mendapatkan keterampilan yang sama karena sejumlah pengajar SMKN Jateng Semarang dikirim ke Kantor Pusat PT Buma di Balikpapan untuk mendapatkan pelatihan dan saat ini sudah ada empat guru. 

Tak hanya kelas industri, SMKN Jateng juga memiliki kelas reguler dan diperbanyak praktik untuk membuat produk dari semula dua jam menjadi tujuh jam per hari.

Pada 2018 lalu, dari 118 siswa, yang terserap bekerja dan yang melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi mencapai 198 orang atau 91,53 persen atau hanya menyisakan 8,47 persen pencari kerja.

"Kami melatih mereka menjadi wirausaha, sehingga akan menekan pengangguran dan menyerap tenaga kerja, setidaknya dari warga di sekitar tempat tinggalnya," demikian Yudi Wibowo. (KOM)
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar