PT Timur Bahari bantah buang limbah PLTU sembarangan

id PLTU Batang, nelayan

PT Timur Bahari bantah buang limbah PLTU sembarangan

Project Leader PT Timur Bahari Arlin memberikan penjelasan kepada media terkait dengan protes para nelayan Kabupaten Batang terhadap pembuangan limbah material ke laut. (Foto: Kutnadi)

Batang (Antaranews Jateng) - PT Timur Bahari membantah telah membuang sisa limbah pembangunan pembangkit listrik tenaga uap Kabupaten Batang, Jawa Tengah, secara sembarangan atau menyalahi prinsip analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) seperti yang dituduhkan oleh para nelayan.

"Selama ini kami bekerja sesuai standar operasional prosedural (SOP) dan ketentuan berlaku. Di lokasi yang telah ditentukan tersebut, kami juga memasang tanda atau pelampung sebagai rambu untuk para nelayan agar tidak mendekat atau melintas di lokasi," kata Project Leader PT Timur Bahari Arlin di Batang, Rabu.

Ia mengatakan PT Timur Bahari selaku pelaksana pekerjaan pengerukan dan pemasangan pipa pendingin PLTU tidak menampik adanya kegiatan pembuangan material hasil pengerukan ke laut.

"Material yang kami buang berbentuk lumpur, tanah liat, pasir, batu, dan karang. Material kami buang di lokasi koordinat yang telah ditentukan pada analisis mengenai dampak lingkungan atau 10,8 mil dari bibir pantai," katanya.

Selain itu pembuangan material di lokasi tersebut, kata dia, juga telah diketahui oleh perwakilan nelayan dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, serta aparat terkait. 

Ia mengatakan PT Timur Bahari telah membangun pipa pendingin turbin PLTU yang dipasang pada kedalaman 8 meter sampai 12 meter meski saat itu kedalaman pantai hanya 5 meter sehingga butuh pengerukan. 

Proses pengerukan, kata dia, sudah dimulai sejak akhir Desember 2016 dan ditargetkan pengerjaan selesai pada akhir 2018.

"Adapun, saat ini sudah  terpasang sambungan pipa sepanjang 500 meter dari total panjang 1,6 kilometer dan diameter pipa selebar 4 meter. Pemasangan sambungan pipa dilakukan setiap harinya selama 24 jam nonstop," katanya.

Menurut dia, setiap hari ada dua kapal tongkang berkapasitas 700 gross tone (GT) melakukan pengerukan sisa limbah atau material yang rata-rata mencapai 2 ribu kubik per hari.

"Oleh karena, proyek ini bakal menghasilkan 1,5 juta kubik material.  Adapun material  itu sudah dibuang di lokasi koordinat yang telah ditentukan pada amdal," katanya.

Ketua HNSI Kabupaten Batang Teguh Tarmujo mengatakan pihak HNSI hanya sebatas menjembatani kedua pihak menyusul permasalahan yang dihadapi para nelayan terkait dengan adanya dugaan pembuangan sisa limbah pembangunan PLTU itu.

"Kami berharap adanya titik temu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Saya tegaskan, kami tidak akan menghalangi terhadap proses proyek pembangunan PLTU, tetapi pada hal ini, nelayan jangan dirugikan," katanya. 

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar