Sukimin Marto (69), seorang perajin yang juga warga Ngampon RT04/RW04, Mojosongo, Jebres, Solo di Solo, Kamis, mengatakan kemoceng bulu ayam jago (pejantan) produksinya memiliki warna yang menarik, sehingga banyak diminati para konsumen dalam kondisi pasar yang mengalami persaingan ketat.
Dia mengaku memanfaatkan bulu ayam kampung yang dibuang di tempat jasa pemotongan untuk membuat produk ekonomi kreatif tersebut.
Ternyata, katanya, hasil kerajinannya memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
"Bulu ayam jago yang memiliki aneka warna yang menarik ini, dijadikan produk ekonomi kreatif kemoceng yang bermanfaat bagi kehidupan manusia," katanya.
Kemoceng produksinya, kata dia, sebagai paling bagus karena berbahan bulu ayam jago yang harganya murah. Kemoceng ukuran panjang 40 centimeter dijual Rp25 ribu dan ukuran 50 centimeter dengan harga Rp35 ribu per batang.
Dia menjelaskan kerajian kemoceng tersebut dikerjakan dengan cara tradisional, tetapi hasilnya mampu memuaskan para pelanggan.
Kemampuan produksi kerajinan kemoceng yang digeluti sudah puluhan tahun tersebut, kata dia, sekitar 40 batang per bulan.
Oleh karena keterbatasan tenaga kerja, pihaknya belum bisa memenuhi permintaan pasar.
"Kami tidak pernah ada stok produk, karena sering habis dikirim ke pelanggan di toko-toko peralatan rumah tangga di Solo, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, dan Sragen," katanya.

