"Pemberian sanksi secara fisik menurut kami tidak efektif untuk para siswa. Mereka yang terlambat datang, dihukum menyiram tanaman bunga. Dengan cara ini, sekaligus kami mendidik mereka untuk mencintai lingkungan," kata Kepala SMA Negeri 4 Kota Magelang Sri Sugiyarningsih di Magelang, Senin.
Ia mengatakan hal itu saat para guru dan pegawai sekolah setempat berdialog dengan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito.
Kebijakan tersebut, kata dia, juga terkait dengan program sekolah mengampanyekan gerakan cinta lingkungan sekolah selama beberapa tahun terakhir. Kompleks SMA Negeri 4 Kota Magelang di Jalan Panembahan Senopati Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang.
Pada 2014, sekolah tersebut meraih penghargaan bidang kebersihan, berupa Piala Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah, dan selanjutnya bersiap untuk maju lomba tersebut ke tingkat nasional.
Terkait dengan sukses program tersebut, katanya, para siswa juga dilibatkan dalam mengelola lingkungan sekolah yang salah satunya melalui Gerakan Jumat Bersih. Setiap Jumat pukul 06.30-07.30 WIB, para siswa membersihkan kelas dari sampah, memungut sampah di lingkungan sekolah, merawat dan mengelola taman sekolah.
Wali Kota Sigit mengapresiasi langkah pengelola sekolah untuk mengembangkan semangat anak didik makin cinta terhadap lingkungan alam.
Hukuman kepada siswa terlambat masuk sekolah, berupa menyiram tanaman bunga, katanya, bersifat edukatif, yakni membuat siswa terlibat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Saat inspeksi di sekolah tersebut, Wali Kota Sigit mendapat laporan adanya tiga guru, satu staf sekolah, dan 14 siswa yang terlambat masuk sekolah.
"Siswa yang telat disuruh menyirami tanaman, kalau perlu guru yang terlambat juga diperlakukan sama. Atau bisa juga diberi sanksi membawa pot beserta tanamannya ke sekolah. Ini kan maksudnya baik, agar sekolah ini bisa lebih hijau dan sejuk lagi," katanya.

