"Krisis air juga bisa diatasi secara nonstruktural seperti hutanisasi dan berperilaku tidak membuang sampah, baik di bantaran sungai maupun di badan-badan air," kata Menteri PU Djoko Kirmanto di Semarang, Senin.
Hal tersebut disampaikan Menteri PU usai rangkaian kegiatan peringatan Hari Air Dunia XXI Tingkat Nasional Tahun 2013 di Kanal Banjir Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang dihadiri sejumlah pejabat terkait.
Djoko menjelaskan, Kementerian PU telah membangun 11 waduk hingga tahun 2009 dan pada tahun ini akan ada "ground breaking" minimum 13 waduk yang dibangun lagi.
Menurut dia, semua biaya waduk yang akan dibangun itu menggunakan APBN yang bersifat "multiyears" karena jangka waktu pembangunan waduk membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun.
"Beberapa waduk yang akan dibangun itu antara lain di Cilacap, Jateng dan di Kuningan, Jawa Barat," ujarnya didampingi Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.
Selain membangun waduk dan normalisasi sungai untuk mengatasi krisis air, katanya, masyarakat juga bisa melakukan pekerjaan nonstruktural yakni hutanisasi dan berperilaku tidak membuang sampah, baik di bantaran sungai maupun di badan-badan air.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menambahkan bahwa selama ini Provinsi Jateng mampu mengelola air dengan baik.
Menurut dia, indikasi dari hal tersebut adalah masyarakat Jateng bisa swasembada beras dan mempunyai ketahanan pangan yang kuat.
"Dengan memperingati hari air dunia ini mari kita selamatkan dan berdayakan air untuk kepentingan kesejahteraan semua masyarakat," kata mantan Pangdam IV/Diponegoro itu.

