
Mahasiswa UMKU ciptakan insinerator sederhana solusi atasi sampah

Kudus (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMKU) yang melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berhasil menciptakan insinerator atau alat pembakar sampah sederhana dengan biaya murah sebagai solusi pengelolaan sampah di desa.
Pengoperasian insinerator sederhana yang dibuat di kompleks Balai Desa Karangbener itu, diresmikan Bupati Kudus Sam'ani Intakoris bersama Rektor UMKU Edy Soesanto, Kepala Desa Karangbener Arifin, dan Anggota DPRD Kudus Sandung Hidayat, Senin.
Menurut Koordinator KKN UMKU di Desa Karangbener Muhammad Maulana Sabarudin, insinerator tersebut dibuat untuk membantu mengatasi permasalahan sampah, khususnya yang tidak memiliki nilai ekonomis.
"Alat ini ditujukan untuk membakar sampah yang tidak bernilai jual, seperti kertas, dedaunan, serta ranting pohon," ujarnya.
Ia menjelaskan sisa pembakaran berupa abu juga masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Dengan demikian, permasalahan sampah dapat teratasi sekaligus menghasilkan manfaat lanjutan bagi masyarakat.
Maulana mengakui insinerator buatan mahasiswa KKN tersebut memang masih sederhana dan belum sempurna. Namun, alat ini diharapkan dapat menjadi solusi sementara di tengah keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA) Tanjungrejo yang saat ini mengalami kelebihan volume sampah.
Untuk biaya pembuatannya, insinerator tersebut relatif murah. Total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp2 juta, dengan menggunakan material bata hebel (bata ringan) sebagai struktur utama, sementara penutup ruang pembakaran serta instalasi lainnya memanfaatkan seng dan besi bekas bangunan.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris mengapresiasi inovasi mahasiswa UMKU yang mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah di desa.
"Kami berharap permasalahan sampah di desa dapat dikelola dengan baik. Mahasiswa juga kami harapkan terus mendampingi masyarakat melalui sosialisasi pentingnya memilah sampah," ujarnya.
Menurut Sam'ani sampah nonorganik tetap dapat dibuang ke TPA, sementara sampah organik bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi pupuk organik melalui kerja sama dengan PT Djarum. Adapun sampah dedaunan, kertas, serta sampah lain yang tidak bermanfaat dapat dibakar menggunakan insinerator sederhana tersebut.
Kepala Desa Karangbener Arifin turut mengapresiasi inovasi mahasiswa KKN UMKU. Keberadaan insinerator tersebut akan sangat membantu pengelolaan sampah, terutama sampah dari kegiatan pertemuan desa yang tidak bisa dimanfaatkan kembali.
"Selama ini pengelolaan sampah di desa sudah cukup tertata, namun kami masih menghadapi kendala rendahnya kesadaran warga dalam memilah sampah," ujarnya.
Ia menambahkan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat serta dukungan penyediaan bak sampah terpilah masih sangat dibutuhkan agar warga terbiasa memisahkan sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
