Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi kategori desa sangat tertinggal dan terpencil di wilayah tersebut karena perekonomian desa yang ditopang oleh usaha mikro terus berkembang.
"Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah desa terbanyak di Indonesia, yaitu 7.810 desa yang tersebar di 29 kabupaten/kota," katanya di Boyolali, Kamis.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri puncak peringatan Hari Desa Nasional yang dipusatkan di Lapangan Kawasan Kebun Raya Indrokilo, Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.
Berdasarkan capaian indeks desa di Jateng pada tahun 2025, jumlah desa mandiri sebanyak 2.208 desa sekitar 28,27 persen, dan desa maju sebanyak 3.291 desa.
Kemudian, sebanyak 1.666 desa masuk kategori desa berkembang, sedangkan 15 desa yang tertinggal menjadi prioritas intervensi agar naik kelas.
Maka dari itu, kata dia, Pemprov Jateng berkomitmen untuk mendorong pembangunan desa secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan program desa yang dilakukan oleh Pemprov Jateng telah menunjukkan progres yang baik.
Hasilnya, ada 154 kawasan perdesaan yang terdiri dari enam kawasan, meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, industri, dan juga peternakan.
Kemudian, ada 2.331 desa mandiri energi, terdiri atas 2.138 desa mandiri energi inisiatif, 165 desa mandiri energi berkembang, dan 28 desa mandiri energi mapan.
Selain itu, ada 899 desa dan kampung wisata, terdiri atas 685 desa wisata rintisan, 173 desa wisata berkembang, dan 39 desa wisata maju.
Program tersebut juga didorong oleh program Satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Satu Desa Binaan atau Dampingan, sekaligus sebagai strategi penanggulangan kemiskinan, dengan total 76 desa dampingan dari 49 OPD pada 2025.
Sementara pada periode 2019-2025, total desa dampingan sebanyak 452 desa dengan total anggaran lebih kurang Rp112,5 miliar yang dialokasikan, baik dari kolaborasi APBN, APBD, Dana Desa, dan CSR.
Ia mengatakan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah menjadi salah satu nafas perekonomian di Jateng, dengan 4,2 juta dengan sekitar 3 jutaan berada di wilayah kabupaten/kota, khususnya di pedesaan.
Di antara UMKM di pedesaan juga ada yang sudah menjadi Desa Ekspor, yaitu desa yang memiliki usaha skala menengah yang mempunyai kualifikasi ekspor.
"Itu potensi desa yang perlu kita kembangkan. Artinya perlu kita tingkatkan lagi," katanya.
Baca juga: Deklarasi Boyolali digaungkan bersama pada puncak peringatan Hari Desa Nasional 2026

