Dua orang tewas saat arung jeram di Sungai Serayu

id arung jeram, sungai serayu

Dua orang tewas saat arung jeram di Sungai Serayu

Ilustrasi. Arung jeram di Sungai Serayu Banjarnegara. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Dua orang dilaporkan meninggal dunia dan lima orang lainnya luka-luka saat mengikuti kegiatan arung jeram di Sungai Serayu, Desa Singamerta, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu.

Saat dihubungi dari Purwokerto, Minggu malam, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Arief Rahman membenarkan kabar tersebut.

"Benar, ada dua orang yang meninggal dunia, sedangkan yang luka lima orang," katanya.

Dalam hal ini, dua korban meninggal dunia terdiri atas Kohar Mutalim (54), guru SMPN 2 Kroya, dan Ahmad Prihantoro (25), warga Desa Kutayasa RT 01 RW 01, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, yang merupakan pemandu arung jeram.

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Banjarnegara, kejadian tersebut bermula saat rombongan karyawan dan guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kroya, Kabupaten Cilacap, Jateng, melaksanakan arung jeram yang dimulai dari Desa Prigi.

Oleh karena jumlah peserta mencapai 54 orang, mereka dibagi dalam sembilan perahu masing-masing terdiri atas lima-enam orang ditambah seorang pemandu dari operator arung jeram The Pikas serta sebuah perahu tim penolong.

Sesampainya di jeram besar yang berada di pertemuan Kali Tulis dan Sungai Serayu, perahu nomor 5 yang ditumpangi korban terbalik sehingga tim penolong berusaha menyelamatkan para penumpang ke tepi sungai.

Tim penolong berhasil menyelamatkan lima orang penumpang sedangkan dua orang lainnya, yakni Ahmad Prihantoro dan Kohar Mutalim masih berada di atas perahu karet yang terbalik serta terbawa arus hingga mendekati bendungan Singamerta.

Akan tetapi perahu karet tersebut menabrak dinding sungai sehingga mengakibatkan kedua korban terjatuh ke Sungai Serayu.

Salah seorang korban, yakni Ahmad Prihantoro berusaha menarik Kohar Mutalim ke arah utara karena sudah dekat dengan pintu bendungan Singamerta, namun mereka justru terhisap oleh pusaran arus yang deras dan masuk ke pintu air.

Kohar Mutalim ditemukan di saluran irigasi Desa Singamerta dan Ahmad Prihantoro ditemukan di tepi Sungai Serayu dalam kondisi denyut nadi masih teraba sehingga mereka segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.

Akan tetapi sesampainya di RSUD Hj. Anna Lasmanah, kedua korban dinyatakan telah meninggal dunia.

Lebih lanjut, Arief mengakui bahwa kecelakaan tersebut merupakan yang pertama terjadi dalam kegiatan arung jeram di Sungai Serayu, Banjarnegara.

Kendati demikian, dia menyayangkan adanya pemberitaan yang menyebutkan kejadian tersebut disebabkan kurangnya faktor keamanan dan keselamatan.

"Kejadian ini lebih karena musibah. Teman-teman operator arung jeram telah melaksanakan SOP (Standar Operasional Prosedur) dengan benar karena SOP dalam kegiatan arung jeram sangat ketat," katanya.

Sementara dalam keterangan tertulisnya, Direktur The Pikas Adventure Resort Ahmad Fajar mengatakan dalam melaksanakan pengarungan, pihaknya telah mengacu pada standar keselamatan dan prosedur yang berlaku.

"Semua personel `river guide` dan tim `rescue` yang ikut dalam pengarungan tersebut adalah personel yang sudah terlatih dan profesional," katanya.

Menurut dia, standar operasional prosedur yang dijalankan operator menempatkan keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama dalam setiap pengarungan.

Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya sangat menyesalkan insiden yang terjadi pada hari Minggu (11/3) di Sungai Serayu dan merupakan pertama sejak tahun 2007 yang menimbulkan korban meninggal dunia.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban atas musibah yang menimpa para korban. Kejadian hari ini akan menjadi catatan penting untuk kami meningkatkan standar operasional arung jeram di Sungai Serayu agar menjadi lebih baik dan lebih aman," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar