Temanggung, Antara Jateng - Beberapa kesenian tradisional di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, punah karena tidak ada regenerasi, kata Kabid Kebudayaan, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Temanggung, Didik Nuryanto.
Didik di Temanggung, Minggu, mengatakan selain tidak ada regenerasi, juga karena keterbatasan sarana prasarana, keterbatasan kreativitas, dan pergeseran minat masyarakat.
Ia menyebutkan beberapa kesenian yang telah hilang tersebut, antara lain "ande-ande lumut", yaitu sebuah teater tradisional dengan cerita Panji Asmorobangun.
"Kesenian tersebut semula berkembaang di daerah Gemawang, Kranggan, dan Pringsurat. Namun kini tidak ada lagi generasi yang meneruskannya," katanya.
Selain itu, katanya kesenian tawinan (tarian), bojrosanti (musik), ninicowong (tarian), dan lakatan (teater tradisional).
"Kesenian lakatan dengan cerita menak, berkembang di Kandangan. Kesenian ini pernah direkonstruksi dan dipentaskan tahun 2007," katanya.
Dikatakan, di Temanggung tercatat ada 72 jenis seni pertunjukan, yang terdiri atas 1.637 grup kesenian.
Ia menuturkan dari sejumlah grup kesenian tersebut 70 persen di antaranya merupakan grum kesenian kuda lumping.
Disbudparpora Kabupaten Temanggung terus berusaha melakukan pembinaan terhadap keberadaan grup kesenian tersebut, salah satunya mengikutkan grup kesenian tersebut tampil pada suatu kegiatan baik regional maupun nasional.
"Dalam waktu dekat kesenian kuda lumping dari Kandangan akan tampil dalam Hari Jadi Kabupaten Kendal pada 17 September 2016 dan kuda lumping dari Tretep akan tampil di Taman Mini Indonesia Indah," katanya.
Ia mengatakan pihaknya juga melaksanakan program revitalisasi berupa penelitian dan rekonstruksi pada kesenian yang hampir punah.

