Solo (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Surakarta mencatat pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Solo pada Tahun 2020.
"Kalau selama pandemi untuk kekerasan terhadap perempuan agak tinggi. Kemarin (Tahun 2020) kami dapat 30 kasus," kata Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPPAPM) Kota Surakarta Selvi Rawung di Solo, Senin.
Ia mengatakan dari angka tersebut yang bersedia diberikan pelatihan oleh Pemkot Surakarta sebanyak 20 orang, sedangkan 10 di antaranya belum bersedia diberikan pelatihan. Untuk pelatihan yang diberikan, di antaranya cara membuat handsanitizer dan masker.
Baca juga: Keberadaan perempuan sangat dipentingkan
Menurut dia, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Tahun 2020 tersebut meningkat jika dibandingkan dengan Tahun 2019, yaitu sebanyak 17 kasus, dan Tahun 2018 sebanyak 15 kasus.
"Kenaikan ini efek dari faktor ekonomi, kemudian PHK (pemutusan hubungan kerja), dan kehilangan pekerjaan," katanya.
Selain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam bentuk fisik, dikatakannya, jenis kekerasan lain yang diterima oleh para istri, yaitu kekerasan ekonomi.
"Kekerasan ekonomi ini, seperti tidak diberi nafkah oleh suami, ketika istri minta suami marah-marah. Padahal juga untuk keperluan sekolah anak," katanya.
Sementara itu, pada sosialisasi peran perempuan dalam ketahanan ekonomi keluarga di masa pandemi, istri Wali Kota Surakarta Selvi Ananda mengatakan perempuan memegang peranan penting di keluarga.
"Perempuan, seperti halnya manajer di keluarga. Oleh karena itu, saya rasa bagus pelatihan di dharma wanita, karena ini untuk pemberdayaan ekonomi keluarga," katanya.
Mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan, Selvi mengatakan para korban langsung diberikan pembinaan berupa bekal keterampilan.
"Ketika punya keterampilan, bisa menghasilkan ekonomi (pendapatan). Sekaligus jadi tulang punggung keluarga, para korban ini rata-rata masih muda. Masih panjang langkahnya untuk masa depan," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Selvi juga berkesempatan melihat berbagai pelatihan yang diberikan, di antaranya budidaya tanaman bumbu masakan dan budidaya minaponik.
Baca juga: Perempuan suka mengalah, ini penjelasan psikolog
Baca juga: Perempuan harus perkuat kolaborasi untuk tingkatan soliditas gerakan
Baca juga: Komunitas perempuan perlu dilibatkan dalam PPKM skala mikro
Berita Terkait
DNA anak korban kekerasan seksual di Purworejo tak cocok dengan pelaku
Senin, 11 November 2024 16:18 Wib
Menteri: Nikahkan korban kekerasan seksual dengan pelaku bukan solusi
Senin, 11 November 2024 12:05 Wib
Polisi tetapkan tiga tersangka kekerasan seksual di Purworejo
Senin, 11 November 2024 12:04 Wib
UNS hentikan kegiatan Porsena buntut aksi kekerasan antarpemain
Jumat, 25 Oktober 2024 14:13 Wib
LPSK tindak lanjuti permohonan perlindungan korban kekerasan seksual
Rabu, 23 Oktober 2024 22:13 Wib
Pekalongan komitmen cegah kekerasan terhadap anak di satuan pendidikan
Selasa, 22 Oktober 2024 19:57 Wib
Tindakan represif ajudan, PWI-AJI somasi Pj Gubernur Jateng
Minggu, 13 Oktober 2024 22:51 Wib
USM seminarkan "Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Pendidikan"
Rabu, 9 Oktober 2024 9:19 Wib