Logo Header Antaranews Jateng

Wagub Taj Yasin ajak ponpes perkuat perlindungan perempuan dan anak

Selasa, 21 Oktober 2025 19:48 WIB
Image Print
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat sambutan pada Sarasehan Hari Santri Nasional Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Bendan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/10/2025). (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif.)

Kudus (ANTARA) - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak seluruh lembaga pendidikan keagamaan, terutama pondok pesantren, untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya kekerasan.

"Pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan akhlak generasi muda, sekaligus menjadi teladan dalam perlindungan terhadap anak dan perempuan," ujarnya saat menghadiri Sarasehan Hari Santri Nasional Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Bendan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Selasa.

Dengan masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, kata dia, permasalahan itu menjadi perhatian serius, termasuk di Jawa Tengah.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jateng, pada tahun 2024 tercatat 1.349 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan hingga Juli 2025 telah mencapai 867 kasus.

Dengan angka tersebut, Jateng menempati posisi ketiga nasional dalam jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Ini menjadi tantangan bagi pondok pesantren untuk menunjukkan bahwa pesantren bukan tempat yang rawan kekerasan, tapi justru menjadi contoh lembaga pendidikan yang ramah anak dan perempuan," ujarnya.

Taj Yasin menilai pesantren memiliki keunggulan tersendiri dibanding sekolah umum karena santri dan pengasuh berinteraksi hampir 24 jam. Hal itu memungkinkan terbangunnya kedekatan emosional dan pendidikan akhlak yang lebih mendalam.

"Pendidikan di pesantren bukan hanya lewat buku, tapi juga lewat keteladanan. Maka sistem pendidikan di ponpes harus menjadi sistem yang ramah anak," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Bendan juga mendeklarasikan diri sebagai Pesantren Ramah Perempuan dan Anak, sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat.

Kegiatan sarasehan yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW), dan berbagai lembaga perlindungan perempuan serta anak. Program ini juga didukung oleh organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terutama melalui lembaga otonom seperti Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), yang aktif mengawal penguatan pesantren ramah anak.

Bupati Kudus Sam'ani Intakoris, Kakanwil Kemenag Jateng, Kepala Kemenag Kudus, pengasuh Ponpes Raudlatuth Thalibin Bendan Kiai Haji Muhammad Hafid Asnawi, serta sejumlah pejabat lain turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Sementara tema sarasehan, yakni "Pesantren Anti-Bullying dan Anti-Kekerasan Menuju Pesantren Aman dan Sehat". Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk memperkuat komitmen menjadikan pesantren sebagai tempat yang tidak hanya mencetak santri yang pintar ngaji dan berakhlak, tetapi juga siap menghadapi perubahan zaman dengan sikap moderat dan inklusif.

"Harapannya, pesantren dapat terus meneladani ajaran Rasulullah yang sangat menjunjung tinggi perempuan dan anak. Semoga ikhtiar ini membawa manfaat bagi seluruh santri dan masyarakat," ujarnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah Emma Rachmawati mengatakan, pihaknya akan membentuk Forum Anak Santri. Forum ini penting agar para santri memahami hak-hak anak serta bahaya kekerasan dan bullying.

"Kami ingin anak-anak santri bisa aktif memahami isu perlindungan anak dan anti kekerasan. Karena kami bersama Kemenag dan Majelis RMI juga tengah membangun sistem pencegahan kekerasan di pesantren, termasuk pembentukan sekolah ramah anak dan satgas perlindungan di setiap pesantren," ujarnya.

Ia berharap forum dan satgas yang dibentuk dapat menciptakan lingkungan pesantren yang aman, ramah, dan bebas kekerasan bagi seluruh santri di Jawa Tengah.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026