Arkeolog: Komunitas ujung tombak pelestarian cagar budaya

id Cagar Budaya, Pekalongan

Arkeolog: Komunitas ujung tombak pelestarian cagar budaya

Kantor Pos Kota Pekalongan. Salah satu cagar budaya di Kota Pekalongan yang berada di kawasan budaya Jalan Jetayu. (Foto Kutnadi)

Pekalongan (ANTARA) - Perlu adanya kesadaran dan dukungan dari masyarakat untuk melestarikan cagar budaya di Indonesia agar tidak punah, kata Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Musadad.

"Makanya, saya berusaha untuk saling mengenal dengan komunitas-komunitas yang punya konsen dengan cagar budaya karena mereka menjadi ujung tombak satu pengamanan dan perhatian terhadap keberadaan cagar budaya," kata arkeolog itu dalam kegiatan Edukasi Siswa dan Guru Berbasis Cagar Budaya di Pekalongan, Rabu sore.

Menurut dia, masing-masing masyarakat memiliki profesi yang berbeda sehingga perlu adanya kolaborasi perhatian semua pihak terhadap kelestarian cagar budaya.

Namun, kata dia, keberadaan cagar budaya ini tidak akan lestari tanpa adanya perhatian dari praktisi pada bidangnya yang berada di ujung bawah.

"(Memang) ada dinas, ada balai pelestarian (cagar budaya) tetapi (pengawasannya) terbatas. Semua pihak memiliki tanggung jawab (melestarikan cagar budaya)," katanya.
Kegiatan edukasi pelestarian cagar budaya di Kota Pekalongan, Rabu (20/3) (Foto: Kutnadi)

Ia mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan beralih fungsinya cagar budaya apabila pemiliknya tetap melakukan pemeliharaan dan tidak mengubah sepenuhnya keberadaan bangunan.

"Jika untuk (pemeliharaan) beralih fungsi tidak apa-apa daripada hancur (tidak dirawat). Hanya saja, alih fungsi itu (jangan) dihancurkan total. Kita memang tidak berharap balik lagi ke kekunoan tapi kita bisa menunjukan memilik warisan untuk genarasi ke depan," katanya.

Ia menambahkan melalui kegiatan "Edukasi Siswa dan Guru Berbasis Cagar Budaya" diharapkan para siswa dan guru yang merupakan bagian dari masyarakat bisa menularkan pengetahuannya terhadap perlu adanya kelestarian cagar budaya.

 
Pewarta :
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar