Purbalingga (Antaranews Jateng) - Belasan hektare tanaman cabai di lereng Gunung Slamet khususnya Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, terserang penyakit patek dan busuk batang akibat curah hujan yang tidak menentu.
"Curah hujan yang tidak menentu dan cenderung ekstrem mengakibatkan kondisi tanah menjadi lembab sehingga berdampak terhadap tumbuhnya jamur termasuk patek," kata Kepala Desa Serang Sugito di Purbalingga, Rabu.
Menurut dia, jamur tersebut menyerang batang dan daun sehingga tanaman cabai menjadi layu, rusak, hingga akhirnya mati.
Ia mengatakan dari total luasan lahan tanaman cabai di Desa Serang yang mencapai kisaran 25 hektare, sekitar 50 persennya rusak akibat serangan patek dan jamur.
"Kondisi tersebut juga terjadi di sejumlah daerah penghasil cabai sehingga berdampak terhadap gejolak harga komoditas pertanian itu di pasaran yang cenderung bertahan tinggi dalam beberapa waktu terakhir," katanya.
Menurut dia, petani di Desa Serang telah berupaya mengantisipasi serangan jamur atau penyakit patek dengan melindungi tanaman cabai menggunakan lembaran plastik.
Akan tetapi, kata dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal karena tanaman cabai masih tetap terserang patek dan jamur.
"Plastik itu dipasang melengkung seperti `green house` di setiap petakan tanaman cabai namun ternyata tidak mampu mengatasi serangan patek dan jamur," jelasnya.
Sementara berdasarkan pantauan di pasar tradisional kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, harga komoditas cabai masih relatif tinggi meskipun lebih rendah jika dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Dalam hal ini, harga cabai merah besar masih bertahan pada kisaran Rp42.000--Rp45.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp33.000--Rp36.000/kg, cabai rawit hijau Rp29.000--Rp30.000/kg, dan cabai rawit merah Rp33.000--Rp35.000/kg.

