Kudus, ANTARA JATENG - Desa Loram Kulon yang berada di Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, diusulkan menjadi desa wisata karena memiliki potensi yang mendukung serta dinilai memenuhi sejumlah persyaratan.
"Selain memiliki wisata budaya yang bisa dijual kepada masyarakat luas, Desa Loram Kulon juga miliki wisata kuliner," kata Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Sri Wahjuningsih di Kudus, Rabu.
Untuk diusulkan menjadi desa wisata, katanya, suatu wilayah tidak hanya memiliki potensi wisata, melainkan juga mendapat dukungan dari masyarakat serta telah terbentuk kelompok sadar wisata.
Ia mengatakan, kelompok sadar wisata tersebut tidak sekadar formalitas, melainkan harus aktif melakukan kegiatan untuk mendukung pengembangan desa wisata.
Persyaratan lainnya, yakni terkait ketersediaan "homestay" atau rumah sewa untuk melayani tamu yang hendak menginap di desa setempat.
"Desa yang diusulkan menjadi desa wisata juga harus memiliki produk unggulan," ujarnya.
Menurut dia, Desa Loram Kulon juga memiliki produk unggulan, berupa bandeng presto, sehingga dari sisi persyaratan memang layak diusulkan menjadi desa wisata.
"Jika disetujui, tentunya Desa Loram Kulon akan menjadi desa percontohan sebagai desa wisata karena dari belasan desa rintisan wisata baru satu desa yang diusulkan," ujarnya.
Ia berharap, perubahan status dari desa rintisan wisata menjadi desa wisata semakin memajukan masyarakat desa setempat, karena semakin banyak dikunjungi wisatawan tentunya akan memunculkan potensi ekonomi yang lebih baik.
Ketua Paguyuban Desa Wisata Kudus Anis Aminuddin yang juga warga Desa Loram Kulon menjelaskan, bahwa Desa Loram Kulon memang sudah lama ditetapkan menjadi desa rintisan wisata.
Berdasarkan surat keterangan (SK), katanya, Desa Loram Kulon ditetapkan sebagai desa rintisan wisata sejak tahun 2010.
Selain itu, lanjut dia, Desa Loram Kulon juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai juara harapan dua tingkat Jateng pada tahun lalu.
"Secara umum, Desa Loram Kulon siap menerima kunjungan wisatawan, karena masyarakatnya juga sudah mendapatkan pemahaman atas konsekuensi menjadi desa wisata harus ramah terhadap pengunjung," ujarnya.
Ia menganggap, Desa Loram Kulon diusulkan mendapat sebutan desa religi dan kreatif.
Pasalnya, kata Anis, desa setempat Loram Kulon memiliki situs masjid wali serta tradisi budaya, seperti "manten mubeng" yang masih lestari.
"Manten mubeng", katanya, merupakan tradisi turun temurun yang masih dilestarikan oleh warga desa setempat.
Setiap pengantin baru, katanya, akan berjalan mengitari gapura bersejarah yang berada di depan Masjid At Taqwa sebagai upaya memperkenalkan kepada masyarakat setempat serta untuk berdoa agar pernikahannya langgeng.
Tradisi budaya lainnya, yakni adanya tradisi kirab ampyang setiap Maulid Nabi Muhammad SWA serta adanya sedekah nasi kepal dari warga desa setempat yang memiliki hajat tertentu.
Ia berharap, setelah adanya perubahan status menjadi desa wisata, perekonomian masyarakat setempat akan semakin meningkat

