Temanggung, Antara Jateng - Tradisi nyadran Sapar di Dusun Dukuh, Desa Ngropoh, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Jumat, menjadi daya tarik wisatawan mancanegra untuk menyaksikannya.
Dua wisatawan dari Cekoslovakia, Shela dan Martha terlihat membaur bersama warga Ngropoh mengikuti rangkaian ritual nyadran hingga akhir.
Mereka terlihat mengabadikan momentum tersebut dengan kamera.
Shela menuturkan kekaguman atas tradisi budaya masyarakat di Temanggung. Masyarakat bergotong-royong untuk menggelar ritual dan berdoa bersama untuk leluhur serta memohon keselamatan.
"Tradisi ini unik dan tidak ada di negara saya. Oleh karena itu saya menyaksikan ritual ini hingga akhir," katanya.
Martha mengatakan telah lama tertarik untuk menyaksikan ritual nyadran yang masih dilestarikan masyarakat Ngropoh ini.
Pada tradisi tahunan tersebut ratusan warga berduyun-duyun menuju makam desa dengan membawa tenong yang berisi aneka makanan seperti nasi bucu, ingkung ayam kampung, sayuran, kerupuk, tempe dan tahu bacem, buah-buahan, dan jajan pasar.
Setelah sampai di pemakaman umum tersebut, warga duduk berjajar di atas tikar. Tenong ditaruh di depan mereka duduk. Usai berdoa tenong dibuka dan aneka makanan dibagikan pada warga yang datang untuk dibawa pulang dan warga tidak boleh makan di makam.
Kadus Dukuh Desa Ngropoh Kecamatan Kranggan, Kabul mengatakan kegiatan nyadran ini untuk melestarikan tradisi leluhur dan internalisasi kearifan lokal yang kini semakin terkikis perkembangan zaman.
Ia menuturkan warga berdoa agar kehidupan masyarakat selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan diberikan kesejahteraan.
Ia mengatakan warga juga berdoa untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keragaman dan kebhinnekaan yang ada jangan dijadikan alasan untuk saling menghina satu sama lain, namun dijadikan sarana saling mengerti mempererat persaudaraan.

