Semarang, Antara Jateng - Dinas Pendidikan Jawa Tengah masih menghimpun informasi secara detail penyebab kegagalan seluruh siswa program IPA reguler SMA Negeri 3 Semarang pada SNMPTN 2016.
"Kami masih berupaya meminta informasi kronologis pendaftaran dari SMAN 3 Semarang," kata Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah Disdik Jateng Bambang Supriyono di Semarang, Rabu.
Seluruh siswa program IPA reguler SMAN 3 Semarang yang berjumlah 380 orang tidak ada yang lolos SNMPTN 2016, sementara untuk program IPA akselerasi ada 14 siswa lolos dan IPS yang lolos 22 siswa.
Tidak ada satu pun siswa program IPA reguler yang lolos SNMPTN menimbulkan pertanyaan banyak pihak, mengingat SMAN 3 Semarang tergolong favorit dan banyak siswa berprestasi dan juara di sekolah itu.
Bambang menjelaskan proses "input" data siswa ke dalam PDSS (pangkalan data sekolah dan siswa) untuk pendaftaran SNMPTN dilakukan oleh sekolah sehingga evaluasi perlu dimulai dari proses itu.
"Informasi mengenai kronologis pendaftaran itu kami minta sekolah memberikan sedetail-detailnya, sejujur-jujurnya, dan seakurat-akuratnya. Ya, tentunya yang mengetahui dari sekolah," katanya.
Upaya yang dilakukan sebatas menghimpun informasi dari sekolah, lanjut dia, sementara untuk mencari informasi dari panitia SNMPTN tidak mungkin karena bukan kewenangan dari Disdik Provinsi.
Namun, ia menegaskan tetap berhati-hati dalam menghadapi persoalan SMAN 3 Semarang dengan tidak gampang mencari pihak yang bersalah sebelum diperoleh informasi kronologis yang akurat dan detail.
"Di SNMPTN 2016 memang ada sistem baru yang membolehkan sekolah memilih. Opsi pertama, sekolah boleh memakai sistem lama untuk mendaftar SNMPTN atau sistem 'on/off' bagi sekolah yang ber-SKS," katanya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, kata dia, sekolah yang menerapkan SKS tetap menggunakan sistem lama untuk "input" data di PDSS, sementara tahun ini SMA yang menerapkan SKS boleh antara dua opsi itu.
"Informasi yang kami dapat dari sekolah, SMAN 3 Semarang memilih sistem baru dengan model 'on/off' itu. Namun, sekolah-sekolah lain di Jateng yang menerapkan SKS tetap memilih sistem lama," katanya.
Namun, Bambang mengatakan jika permasalahannya pada sistem baru semestinya terjadi pula pada siswa program IPA akselerasi dan IPA di SMAN 3 Semarang yang juga dilakukan 'input' dengan sistem baru.
"Kenyataannya, siswa program IPA akselerasi dan IPS (di SMAN 3 Semarang) juga ada yang diterima SNMPTN. Kenapa hanya terjadi pada siswa program IPA reguler. Sistem yang digunakan kan sama," pungkasnya.

