Kabupaten Boyolali merupakan salah satu daerah pegunungan yang dijadikan daerah percontohan budidaya bawang merah organik Batu Ijo di Jateng, kata Kepala Seksi Sayuran dan Geofarmaka, Dispertan Provinsi Jateng, Hesti Utami, disela panen perdana bawang merah organik di Dukuh Jayan, Desa Gedangan, Cepogo, Boyolali, Selasa.
Hesti Utami mengatakan selain Boyolali yang dijadikan lahan percontohan untuk pengembangan tanaman sayuran bawang merah organik, juga di Kabupaten Temanggung yang memiliki lahan pegunungan.
Ia mengatakan Dispertan Provinsi Jateng terus melakukan pengembangan salah satu komoditas andalan tersebut di daerah dataran tinggi baru dilakukan di Boyolali dan Temanggung, sedangkan 2016 rencana dilakukan di Magelang dan Kendal.
Menurut dia, kebutuhan benih bawang merah di Jateng rata-rata sekitar 33 ribu kilogram per tahun, sedangkan produksinya sudah mengalami surplus, dan mampu membantu memasok kebutuhan nasional.
Menurut dia, isu selama ini, bahwa komoditas bawang merah selalu impor. Pemerintah 2016 sudah menyatakan bahwa tidak ada impor lagi bawang, sehingga dengan adanya sentra-sentra baru diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Ia mengatakan pihaknya melakukan pengembangan melalui Kelompok Tani Utomo, di Dukuh Jayan Cepogo Boyolali pada 2015 dengan memberikan bantuan benih bawang merah untuk lahan seluar empat hektare, dan hasilnya cukup luar biasa.
"Saya melihat keberhasilan budidaya bawang merah organik di Boyolali ini, kami akan mengembangkan serupa ke Magelang dan Kendal, tahun ini," katanya.
Menurut dia, pihaknya memberikan bantuan benih dan kebutuhan penanaman lainnya tersebut dengan syarat utama bawang ditanam secara organik.
Produksi bawang merah dari sentra-sentra di Jateng selama ini di wilayah dataran rendah seperti Brebes, Pati, Demak, dan Grobogan, serta diketahui mengandung residu pestisida yang tinggi.

